Menyongsong Era Society 5.0

Menyongsong Era Society 5.0by Tabloid Pendidikan Onlineon.Menyongsong Era Society 5.0Oleh :Widya Ningrum Lulu Sayekti, S.Pd., M.Pd Artikel,Tabloid Pendidikan – Kita sekarang berada di era Milenial serba cepat dan akurat, di mana inovasi didorong oleh teknologi seperti IoT (Internet of Things atau konsep internet untuk segalanya), AI (Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan), dan robotika membawa perubahan signifikan pada ekonomi dan masyarakat. Untuk mengantisipasi tren global, […]

Oleh :Widya Ningrum Lulu Sayekti, S.Pd., M.Pd

Artikel,Tabloid Pendidikan – Kita sekarang berada di era Milenial serba cepat dan akurat, di mana inovasi didorong oleh teknologi seperti IoT (Internet of Things atau konsep internet untuk segalanya), AI (Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan), dan robotika membawa perubahan signifikan pada ekonomi dan masyarakat. Untuk mengantisipasi tren global, negara-negara maju di dunia seperti negara Asia yaitu Jepang dan Korea mulai mempresentasikan Society 5.0 sebagai konsep inti arah perubahan penduduk mereka. Internet of things atau IoT, adalah sistem perangkat komputasi yang saling terkait dengan mesin mekanis dan digital, objek, hewan atau bahkan manusia yang dilengkapi dengan pengidentifikasi unik (UID) dan kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan manusia untuk proses interaksi antarmanusia atau manusia dengan komputer.

Widya Ningrum Lulu Sayekti, S.Pd., M.Pd “……Benda-benda di sekitar kita menjadi lebih pintar karena inovasi dalam teknologi dan berbagai industri semakin canggih dengan aplikasi digital yang kian meraja…..

Benda-benda di sekitar kita menjadi lebih pintar karena inovasi dalam teknologi dan berbagai industri semakin canggih dengan aplikasi digital yang kian meraja. Tapi, jika dibandingkan dengan sektor otomasi industri, sektor pendidikan belum menjadi yang terdepan dalam mengadopsi teknologi terbaru termasuk Indonesia. Walaupun demikian, dunia pendidikan telah memulai konsep belajar era digital dimana belajar tidak terbatas hanya pada kombinasi gambar dan teks tetapi lebih dari itu. Banyak buku teks yang sudah digabungkan ke situs berbasis web yang mampu menggabungkan video, materi, animasi, penilaian, dan materi lainnya untuk membantu proses pembelajaran seperti Epub Reader (Pembaca Epup). Hal ini memberikan perspektif yang lebih luas kepada siswa dalam memperoleh pengetahuan tentang hal-hal baru terkait dengan pemahaman dan interaksi yang lebih baik dengan teman-teman dan guru mereka. Masalah dunia nyata yang bersifat real dan kontekstual dibahas di kelas oleh para profesional pendidikan dan siswa dituntut untuk menemukan jawaban untuk masalah ini dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi yang tersedia.

Keberadaan IoT akan memungkinkan siswa belajar lintas negara dan lintasbenua. Tidak tertutup kemungkinan akan ada banyak siswa yang hadir di kelas dari setiap institusi pendidikan. Memantau keberadaan dan kegiatan masing-masing siswa tentunya bukanlah tugas yang mudah. Selain itu, siswa di lembaga pendidikan lebih rentan terhadap risiko dan membutuhkan keamanan tingkat tinggi bila dibandingkan dengan populasi di tempat kerja lain. Maka, IoT menawarkan perubahan yang sangat besar dalam hal meningkatkan keamanan sekolah, akademi, dan pusat pembelajaran lainnya.

Dengan bantuan teknologi seperti posisi 3D, siswa dapat dipantau 24/7 dan kehadiran mereka dapat dilaporkan pada suatu titik waktu tertentu. Pilihan tombol marabahaya juga dapat disediakan oleh teknologi ini untuk membunyikan alarm jika jika diperlukan. Untuk memantau perilaku siswa, visi kamera cerdas dapat digunakan di sekolah. Baru-baru ini, teknologi penglihatan komputer telah meningkat pesat dan dapat memantau setiap gerakan bahkan dengan sedikir tanda gerakan tangan saja. Aktivitas ini dapat secara otomatis dapat menghentikan insiden yang tidak diharapkan terjadi.

Internet of Things akan lebih terintegrasi ke dalam sistem pendidikan dalam waktu dekat. Sebagian besar sekolah dapat menggunakannya untuk mempersiapkan siswa mereka menjadi sangat melek teknologi sementara yang lain dapat menggunakannya untuk memanfaatkan data, menghemat uang, dan untuk kebutuhan khusus lainnya. Pemahaman kita tentang pendidikan harus bergeser jika kita ingin mengintegrasikan IoT ke dalam pendidikan. Administrator, siswa, dan guru adalah orang-orang yang pertama kali akan merasakan dampak dari perkembangan ini, baik positif, maupun negatifnya.

Selain IoT, faktor lain yang sedang bergema masa sekarang ini adalah tentang kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sekarang menjadi bagian dari kehidupan kita entah kita menyadarinya atau tidak dan apakah kita menerimanya atau tidak. Segala sesuatu yang kita lakukan, seperti membeli pakaian dan sepatu melalui internet, serta menonton acara di TV dipengaruhi oleh berbagai macam AI. Namun, pertanyaan yang perlu ditanyakan dalam konteks ini adalah apa pengaruhnya terhadap pendidikan? Faktanya adalah bahwa AI membuat pengalaman kelas jauh lebih baik dari sebelumnya. AI membantu membentuk generasi selanjutnya dengan model pembelajaran yang sifatnya lebih pribadi dan responsif. Siswa kita di masa depan akan dengan mudah memilih sendiri pola pembelajaran mana yang mereka sukai dan mana yang harus mereka ambil atau tinggalkan. Fungsi guru sedikit banyak akan mulai berkurang karena bantuan teknologi digital yang semakin merajalela. Sementara, kompetensi guru mulai dipertanyakan. Di era Google, siswa kita tidak perlu lagi menghafal setiap fakta. Banyak tugas hari ini yang dilakukan oleh komputer. Oleh karena itu, penekanan kemampuan siswa yang harus diajarkan guru terletak pada aspek keterampilan manusia seperti komunikasi, kepemimpinan dan daya tahan, serta rasa ingin tahu, pemahaman dan keterampilan membaca. Lagi-lagi kompetensi guru sebagai pengajar semua keterampilan tersebut dipertanyakan. Sudah siapkah guru?

Mengajar semakin hari semakin kompleks dan menantang. Tingkat kesabaran siswa menurun, emosi yang mudah tersulut sementara ketidak sopanan, Karakter moralitas atau disintegrasi moral, ketidaktaatan, dan temperamen pendek meningkat. Apakah karena persaingan zaman modern, stres, ketersediaan sumber alternatif pengetahuan seperti internet atau kekerasan yang ditampilkan dalam film, serial TV, dan video game? Bagaimana kita mengatasi tantangan ini dan menjaga agar siswa tetap fokus dan menanamkan perilaku baik di dalamnya?

Penulis berpikir bahwa masalah utamanya adalah mempertahankan minat para siswa. Tentu saja, minat mereka jauh berubah karena perangkat teknologi, maka kita perlu menggunakan perubahan minat tersebut untuk mencapai lebih banyak tindakan positif untuk kegiatan pendidikan. Hal lain adalah bahwa mereka tidak lagi belajar untuk masalah di masa depan, mereka benar-benar ingin tahu tentang aplikasi yang berguna dari apa yang mereka pelajari. Masalahnya, pendidikan kita selalu diwarnai suatu fenomena bahwa siswa kita berasal dari abad 21, diajari dengan teknologi abad 20, dan diajar oleh guru yang berasal dari abad 19.

Sebagai guru lama, perubahan utama yang harus dilakukan guru untuk menghadapi perubahan nyata ini adalah usaha yang lebih besar untuk mengetahui kepribadian unik masing-masing siswa dan pola pikir mereka. Tampaknya ada dikotomi sosial yang lebih besar dalam kesediaan siswa untuk menerima nilai pendidikan dan guru perlu memahami dan bekerja lebih cerdas menjadikan perbedaan itu menjadi modal efektif. Guru harus memahami bagaimana mereka belajar di dunia di mana informasi, baik dan buruk, begitu mudah tersedia. Guru harus lebih kreatif dalam mengembangkan kurikulum yang memiliki nilai dalam dan dari dirinya sendiri untuk sebanyak mungkin siswa. Selain itu, guru harus terpacu untuk mengembangkan hubungan profesional yang lebih kondusif dengan siswa untuk mendapatkan kepercayaan diri siswa yang lebih baik.

Penulis berpikir bahwa guru harus fleksibel dalam beradaptasi dengan cara-cara baru tentang bagaimana siswa belajar di kelas pada abad ke-21. Dengan demikian, guru dituntut untuk belajar seumur hidup, yang mungkin termasuk memiliki identitas virtual dan selalu memperbarui keterampilan mereka untuk memenuhi perubahan demografi siswa di kelas mereka. Mengingat begitu cepatnya perubahan terjadi, maka kita harus berpacu dengan waktu. Sebab, tidak semua kemajuan dalam dunia pendidikan dapat menggantikan fungsi guru di depan kelas. Tetapi siapa yang dapat menduga, masa depan tetap saja masih menjadi rahasia. Tugas kita hanya bersiap dan bersiap. Sehingga ketika societi 5.0 mulai menyebar, kita tidak akan ketinggalan.

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.