Tradisi Lisan Kabhanti Kusapi

Tradisi Lisan Kabhanti Kusapiby Tabloid Pendidikan Onlineon.Tradisi Lisan Kabhanti KusapiOleh : Adi Ngadiman,S.Pd.,M.M. Artikel,Tabloid Pendidikan.Com – Tradisi lisan merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang jumlahnya beratus-ratus di seluruh Indonesia. Kemampuan tradisi lisan untuk melingkupi segala sendi kehidupan manusia, membuktikan bahwa nenek moyang kita di masa lampau telah mengenal ajaran kehidupan yang terkandung dalam tradisi lisan. Menurut Lord (1995: 1) mendefinisikan tradisi lisan sebagai sesuatu […]

lbqd53p4

Oleh : Adi Ngadiman,S.Pd.,M.M.

Artikel,Tabloid Pendidikan.Com – Tradisi lisan merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang jumlahnya beratus-ratus di seluruh Indonesia. Kemampuan tradisi lisan untuk melingkupi segala sendi kehidupan manusia, membuktikan bahwa nenek moyang kita di masa lampau telah mengenal ajaran kehidupan yang terkandung dalam tradisi lisan. Menurut Lord (1995: 1) mendefinisikan tradisi lisan sebagai sesuatu yang dituturkan dalam masyarakat. Penutur tidak menuliskan apa yang dituturkannya tetapi melisankannya, dan penerima tidak membacanya, namun mendengar. Senada dengan itu, menurut Pudentia (2007: 27) mendefenisikan tradisi lisan sebagai wacana yang diucapkan atau disampaikan secara turun-temurun meliputi yang lisan dan yang beraksara, yang kesemuanya disampaikan secara lisan. Akan tetapi modus penyampaian tradisi lisan ini tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga gabungan antara kata-kata dan perbuatan tertentu yang menyertai kata-kata. Tradisi pun akan menyediakan seperangkat model untuk bertingkah laku yang meliputi etika, norma, dan adat istiadat. Lebih lanjut Taylor mendefinisikan tradisi lisan sebagai bahan-bahan yang dihasilkan oleh masyarakat tradisional, yang berbentuk pertuturan, adat resam, atau amalan, di antaranya ritual, upacara adat, cerita rakyat, nyanyian rakyat, tarian, dan permainan.

"Tradisi lisan Kabhanti Kusapi merupakan salah satu kebudayaan daerah yang perlu dibina dan dilestarikan karena sastra daerah ini semakin kurang dikenal oleh masyarakat pendukungnya dan terancam punah maka perlu mendapat perhatian serius"

“Tradisi lisan Kabhanti Kusapi merupakan salah satu kebudayaan daerah yang perlu dibina dan dilestarikan karena sastra daerah ini semakin kurang dikenal oleh masyarakat pendukungnya dan terancam punah maka perlu mendapat perhatian serius”

Tradisi lisan Kabhanti  Kusapi  merupakan salah satu kebudayaan daerah yang perlu dibina dan dilestarikan karena sastra daerah ini semakin kurang dikenal oleh masyarakat pendukungnya dan terancam punah maka perlu mendapat perhatian serius. Sejalan dengan perkembangan zaman yang kompetitif yang dibarengi dengan perkembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi modern berdampak pula pada bergesernya tata nilai dan struktur budaya dalam masyarakat hal ini perlu disadari oleh warga negara bahwa tradisi lisan yang tersebar diberbagai daerah semakin terdesak oleh perkembangan zaman. Arus informasi yang serba canggih telah memperlihatkan dominasinya dalam merebut simpati generasi muda, akibatnya tradisi lisan yang merupakan warisan leluhur terabaikan begitu saja. Di samping itu penyebrannya bersifat lisan tanpa dokumen tertulis dan penutur setia semakin berkurang menjadikan tradisi lisan terancam punah. Apabila ancaman tersebut tidak segera diatasi maka sastra tersebut lambat laun akan punah sama sekali. Padahal dalam tradisi lisan itu tersimpan mutiara kehidupan yang sangat berharga untuk diwarisi dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Kabhanti Kusapi merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang biasa disampaikan dalam balas pantun dengan cara berkelompok misalnya terdiri dari kelompok laki-laki dan perempuan atau juga dalam bentuk perorangan. Seni tradisi lisan ini disampaikan dan dilaksanakan dengan tujuan untuk mengemukakan serta menyampaikan maksud tertentu baik yang berisi sindiran, nasehat, maupun percintaan. Bagi masyarakat pendukungnya Kabhanti Kusapi tersebut dibawakan dengan cara dilantunkan atau dinyanyikan dan biasanya diiringi alat musik gambus yang biasa dilaksanakan atau disajikan pada acara pesta kampung misalnya pernikahan, khitanan, dan jenis kegiatan lain.Di samping itu Kabhanti  Kusapi dapat berguna untuk memperkokoh nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang banyak digunakan oleh orang-orang tua dalam mendidik anak-anak dan juga dapat digunakan oleh pemuda dan pemudi dalam hal mencurahkan isi hatinya kepada seseorang seperti menyatakan cinta kasih, suka duka, kerinduan dan kekecewaan.

Namun keberadaan tradisi lisan Kabhanti kusapi tidak  jauh nasibnya dengan tradisi lisan lisan lainnya yang terancam punah. Masyarakat Muna khususnya generasi muda tidak mengetahui bentuk, fungsi dan makna Kabhanti  Kusapi. Kurangnya perhatian generasi muda terhadap warisan leluhur itu disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah adanya kemajuan zaman yang serba canggih, akibatnya mereka lebih tertarik pada karya sastra modern yang lebih tersedia di sekitarnya, padahal bahasanya serta nilai-nilai kehidupan yang syarat di dalamnya, lebih dari cukup untuk menobatkannya sebagai tradisi yang bermutu tinggi. Hal tersebut semakin menambah kekhawatiran bahwa di masa mendatang Kabhanti  Kusapi ini akan hilang dari peredaran masa.

Menurut Mokui (1991: 6-8) bahwa dilihat dari penggunaannya Kabhanti itu dapat dibagi atas empat macam:

(1) Kabhanti kantola; yaitu Kabhanti  yang digunakan pada waktu bermain kantola. Kantola adalah sejenis permainan tradisional, dimana para pemain berdiri berhadapan antara pemain pria dan wanita. Mereka berbalas pantun dengan irama lagu ruuruunte atau ruuruuntete. Irama ruuruunte ini menggunakan paling tinggi lima nada. Acara kantola biasanya dilaksanakan pada malam hari di musim kemarau setelah selesai panen ubi kayu dan ubi jalar. Adapun bentuk syair  x  seperti ini, sepintas lalu dapat kita katakan prosa liris yakni prosa yang mementingkan irama. Akan tetapi bila kita teliti benar sebagian dapat digolongkan bentuk pantun yang disebut talibun yakni pantun yang lebih dari empat baris tetapi genap jumlahnya.

(2) Kabhanti watulea; adalah Kabhanti  yang menggunakan irama watulea. Kabhanti macam ini biasanya dinyanyikan pada waktu menebas hutan atau berkebun. Sambil bekerja mereka menyanyi bersama-sama atau sendirian. Kadang-kadang dinyanyikan agar tidak kesepian di tempat kesunyian. Syair Kabhanti watulea sebenarnya hanya dua baris dan masing-masing baris terdiri dari tiga kata atau dua kata bila kata itu agak panjang. Karena pada waktu mengulangi menyanyikannya diantarai dengan kalimat E……..ingka kotughu daano, sehingga seolah olah pantun itu terdiri dari tiga baris.

(3)  Kabhanti gambusu; yakni pantun yang dinyanyikan dengan diiringi oleh irama gambus. Biasanya menggunakan gambus kuno yaitu gambus yang bentuknya sederhana, tidak seperti gambus yang kita lihat pada layar televisi. Kadang-kadang instrumen yang digunakan bukan hanya gambus akan tetapi dilengkapi dengan biola, kecapi, serta botol kosong yang ditabu atau dipukul dengan sendok atau paku mengikuti irama lagu dan bunyi instrumen-instrumen enak didengar. Walaupun bukan hanya gambus yang digunakan pada waktu bermain, tetapi pantun yang dinyanyikan disebut Kabhanti gambusu (pantun gambus). Kabhanti gambusubiasanya disajikan pada acara pesta kampung misalnya pernikahan, khitanan, dan jenis kegiatan lainnya yang ada dalam masyarakat muna.

(4)  Kabhanti modero; sebenarnya sama dengan Kabhanti gambusu.

Kabhanti gambusu sering pula dinyanyikan pada waktu bermain modero. Oleh sebab ituKabhanti gambusu disebut pula Kabhanti modero. Modero adalah tari daerah yang hampir sama dengan tari lulo (tari daerah Sulawesi Tenggara). Para pemain saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil menyanyi seirama dengan langkah dalam tarian.

(5) Kabhanti kusapi, yakni pantun yang dinyanyikan dengan diiringi oleh irama gambusu kusapi

Berdasarkan uraian di atas maka obyek kajian dalam penelitian ini adalah Kabhanti gambusu atau modero.  Alasan memilih Kabhanti gambusu atau modero adalah karenaKabhanti ini sama dengan jenis puisi lama(pantun). Tuturan Kabhanti gambusu dan moderoadalah sama, hanya yang menjadi perbedaan adalah cara pelaksanaannya. Kabhanti gambusu dilaksanakan dengan menggunakan alat musik gambus baik dalam bentuk perorangan maupun sendiri-sendiri, sedangkan modero dilaksanakan secara berkelompok dengan cara bergandengan tangan yang menyerupai tari lulo. Jadi yang menjadi fokus penelitian saya adalah Kabhanti gambusu atau modero.

Giddens (2003: 67) mengatakan bahwa globalisasi membawa prinsip budaya modernitas sehingga memunculkan berbagai permasalahan sosial dan mengancam peradaban manusia. Melalui budaya konsumerisme, globalisasi telah banyak menimbulkan konflik, kesenjangan, dan bentuk-bentuk budaya baru. Globalisasi telah membersihkan hampir semua jenis tatanan sosial tradisional dan menggiring umat  manusia  pada pola  kesamaan budaya atau homogenitas budaya yang menentang nilai-nilai dan identitas kelompok. Hal ini mengancam eksistensi budaya lokal menjadi rusak atau bahkan mengantarkan budaya lokal menuju kepunahan (Storey, 2007: 54). Pengaruh globalisasi tidak hanya terkait dengan teknologi dan ekonomi tetapi juga mempengaruhi dari segala aspek kehidupan. Globalisasi, di satu sisi membawa kemudahan dalam berbagai aspek gerak kehidupan, namun di sisi lain memberikan pengaruh negatif yang signifikan pada aspek-aspek kebudayaan. Bukan hanya berdampak pada kemunduran nilai-nilai budaya tetapi juga mengancam kepunahan berbagai aspek kebudayaan, seperti tradisi lisan yang berkembang secara turun temurun yang telah diwariskan sebagai bentuk warisan budaya lokal.(La Banara/Adi)

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.