RELEVANSI “KONSEP TIGA DINDING” DAN SERAT WEDHATAMA BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

RELEVANSI “KONSEP TIGA DINDING” DAN SERAT WEDHATAMA BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DI INDONESIAby Tabloid Pendidikan Onlineon.RELEVANSI “KONSEP TIGA DINDING” DAN SERAT WEDHATAMA BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DI INDONESIAOleh: Yustinus Budi Setyanta Artikel – Siapa yang tak mengenal Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional? Semua masyarakat Indonesia yang sudah mengenyam bangku sekolah tentu mengenalnya. Apalagi setiap tanggal 2 Mei, selalu diadakan upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tentu pada waktu itu sebagian perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara kembali dibacakan, sekadar untuk mengingatkan kita. […]

lbqd53p4

Oleh: Yustinus Budi Setyanta

Artikel – Siapa yang tak mengenal Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional? Semua masyarakat Indonesia yang sudah mengenyam bangku sekolah tentu mengenalnya. Apalagi setiap tanggal 2 Mei, selalu diadakan upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tentu pada waktu itu sebagian perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara kembali dibacakan, sekadar untuk mengingatkan kita.

Konsep paling terkenal yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha; Ing Madya Mangun Karsa; Tut Wuri Handayani. Kita mungkin ingat makna ungkapan tersebut. Guru harus dapat menempatkan diri pada setiap posisi dengan baik. Di depan, sewaktu memimpin, guru harus memberikan teladan yang baik (Ing Ngarsa Sun Tuladha). Ketika berada di tengah-tengah, dia harus bisa menggugah semangat peserta didiknya (Ing Madya Mangun Karsa), dan ketika di belakang mengikuti, harus menjadi motivator/pendorong semangat peserta didiknya (Tut Wuri Handayani). Filosofi tersebut seolah menjadi trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Semua pihak, tidak hanya guru, diharapkan menerapkan trilogi kepemimpinan tersebut.

Yustinus Budi Setyanta“Konsep Tiga Dinding” yang diajarkan Ki Hajar Dewantara menjadi benar adanya

Yustinus Budi Setyanta“Konsep Tiga Dinding” yang diajarkan Ki Hajar Dewantara menjadi benar adanya

Selain konsep yang popular tersebut, ada lagi ajaran dari Ki Hajar Dewantara yang belum banyak diketahui publik. Ki Hajar Dewantara pernah juga mengajarkan filosofi “Belajar Tiga Dinding”. Maksud ajaran tersebut adalah bahwa para peserta didik, ketika di sekolah, sebaiknya belajar dalam “ruangan tiga dinding”.

Tiga dinding? Bukankah setiap ruang kelas terdiri dari empat dinding? Tentu perkataan Ki Hajar Dewantara tersebut tidak tepat jika hanya diterjemahkan secara eksplisit. Ada makna tersirat yang terkandung di dalamnya. Makna “tiga dinding” itu adalah bahwa ruang kelas tersebut harus ada yang terbuka satu. Hal itu dimaksudkan agar para pendidik dan peserta didik dapat melihat pemandangan di luar kelas.

Filosofi tersebut ternyata begitu penting. Konsep pendidikan kita selama ini seolah-olah meletakkan dunia pendidikan di atas menara gading dan tanpa menyentuh realita yang ada. Empat sekat (dinding) tempat kegiatan pembelajaran tersebut membuat cara berpikir kita terlalu teoretis dan kurang dapat bergaul dengan dunia nyata.

Konsep pendidikan yang kurang memperhatikan realita atau kehidupan nyata membuahkan lulusan yang kurang kompetitif. Kita dapat melihat bahwa banyak lulusan perguruan tinggi yang terlalu teoretis sehingga ketika ia kembali ke masyarakat, tidak dapat berbuat banyak. Hal itu dikarenakan selama ini mereka hanya mendapatkan teori saja di bangku sekolah/kuliah.

Dari kenyataan tersebut, “Konsep Tiga Dinding” yang diajarkan Ki Hajar Dewantara menjadi benar adanya. Dengan tiga dinding, akan ada satu dinding yang terbuka dan inilah yang menjadi penghubung dengan dunia luar sekolah. Konsep tersebut seolah ingin menegaskan sistem pendidikan Link and Match, sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang menggabungkan antara teori dengan praktik.

Dewasa ini konsep tersebut sudah mulai digemari dan diaplikasikan dalam pendidikan. Sekolah-sekolah internasional di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai menggabungkan teori dengan praktik. Bahkan Sekolah Alam di Parung, Bogor mulai mengajarkan peserta didiknya sejak dini untuk berwirausaha. Mereka mencoba untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah dengan dunia praktik dan terkadang pembelajaran tidak dilakukan di dalam kelas, tetapi dilakukan di lapangan (alam nyata) sehingga peserta didik dapat lebih memahami teori yang diajarkan.

Melalui “Konsep Tiga Dinding” tersebut seorang guru juga dituntut untuk lebih memahami suatu bidang ilmu sebelum mereka mengajarkan pada peserta didiknya. Mereka tidak hanya menggantungkan diri pada buku pelajaran, tetapi juga dituntut kreativitasnya agar mampu menerapkannya di dunia nyata. Dengan demikian, pendidikan akan terasa lebih nikmat dan menyenangkan. Yang terpenting dari semua itu adalah institusi pendidikan yang menerapkan konsep tersebut, dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Serat Wedhatama

Secara semantik, Serat Wedhatama terdiri atas tiga sukukata, yaitu serat, wedha dan tama. Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan tama berasal dari kata utama yang artinya baik, tinggi, atau luhur. Dengan demikian, Serat Wedhatama memiliki pengertian sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan dan keluhuran hidup dan kehidupan umat manusia.

Serat Wedhatama yang ditulis oleh Sri Mangkunagoro IV (1807–1881) merupakan salah satu pelajaran yang memuat ilmu kebijaksanaan hidup yang berisi pengetahuan tentang keutamaan hidup. Konsep tersebut sebenarnya sama dengan  ilmu pendidikan yang berkembang sekarang ini. Orang yang menjalani pelajaran dari Serat Wedhatama hidupnya akan menyatu dengan kehendak Tuhan, yang dalam istilah Jawa disebut sebagai Manunggaling Kawula Kalian Gusti.

 Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan pula bagi siapa pun yang berkehendak menghayatinya. Wedhatama menjadi salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan atau agama apa pun. Karena ajaran dalam Wedhatama bukanlah dogma agama yang erat dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, melainkan suara hati nurani yang menjadi “jalan setapak” bagi siapa pun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi. Wedhatama mudah diikuti dan dipelajari, diajarkan, dan dituntun step by step secara rinci. Puncak dari laku spiritual yang diajarkan Serat Wedhatama adalah: menemukan kehidupan yang sejati, lebih memahami diri sendiri, manunggaling kawula-Gusti, dan mendapatkan anugerah Tuhan untuk melihat rahasia kegaiban

Serat yang berisi ajaran tentang budi pekerti atau akhlak mulia tersebut, digubah dalam bentuk tembang agar mudah diingat dan lebih “membumi”. Sebab sebaik apapun ajaran itu, jika hanya tersimpan di dalam “menara gadhing” yang megah, tidak akan bermanfaat.

Sri Mangkunagoro IV adalah seorang pujangga besar pada masanya. Serat Wedhatama merupakan salah satu karyanya. Terdapat 72 bait dalam karya sastra itu yang terbagi dalam tembang pangkur, sinom, pucung dan gambuh.  Tembang pertama dalam adalah “pangkur”. Pangkur artinya kita diajak mungkur (menarik diri dari keramaian). Bagaimana cara melakukannya? Kita duduk bersila, memusatkan perhatian pada hidung, mengheningkan cipta, dan mencoba memahami kehendak Tuhan. Orang yang mampu mengheningkan cipta (meditasi) hatinya akan wening (jernih). Orang yang wening akan tahu dunung (bagaimana manusia mampu memahami apa yang dihadapinya). Orang yang tahu dunung akan menang (mampu mengatasi setiap permasalahan)..

Berikut ini dikutipkan satu bait “Pangkur” yang ada dalam Serat Wedhatama.

Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karanan mardi siwi,

Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming aji.

Bila diterjemahkan secara harafiah, tembang tersebut bermakna menahan diri dari nafsu angkara/ karena berkenan mendidik putra/ dikemas dalam indahnya tembang/ dihias penuh variasi/ agar tujuan ilmu luhur tercapai/ yang berlaku di tanah Jawa (nusantara)/ agama sebagai “pakaian”nya perbuatan.

Serat Wedhatama pada awalnya diajarkan kepada anak-anak muda. Harapannya agar hidup anak-anak muda bisa menyatu dengan kehendak Tuhan (manunggaling kawula kalian Gusti). Namun sayangnya, pada saat sekarang tidak ada lagi orang tua yang mengajarkan kebijaksanaan hidup, seperti yang termuat dalam Serat Wedhatama tersebut kepada anak muda. Bahkan, budaya Jawa yang memiliki nilai luhur semakin tidak dikenal anak-anak muda. Memang kita tidak dapat menyalahkan mereka sepenuhnya. Para orang tua menjadi penyebab utama karena mereka tidak mengenalkan konsep tersebut atau mungkin juga karena mereka menganggap bahwa konsep tersebut tidak perlu diajarkan secara khusus. Mereka berpikir bahwa anak-anak mereka sudah mendapatkan pendidikan yang baik di sekolah. Mereka menyerahkan pendidikan itu sepenuhnya kepada pihak sekolah. Namun kenyataannya, sekolah pun tidak tidak secara khusus menerapkan konsep tersebut.

Relevansi Konsep bagi Pengembangan Pendidikan di Indonesia

John Dewey mengatakan bahwa pendidikan merupakan proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual, emosional, dan manusiawi. Sementara itu, Ki Hajar Dewantoro mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntut segala kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak itu agar mereka, sebagai manusia dan anggota masyarakat, dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang tertinggi; sebagai upaya kebudayaan untuk membimbing tumbuhnya jiwa raga agar melalui kodrat pribadi dan pengaruh lingkungan mendapatkan perkembangan jiwa dalam kehidupannya.

Dunia pendidikan kita saat ini tengah dibenahi menuju Accelerated Learning for 2030 Years. Titik yang akan dituju adalah mengantarkan anak bangsa untuk mengembangkan keterampilan yang tepat dan memandang bahwa kekayaan bangsa ini berada pada hasil kualitas otaknya dalam bekerja. Belajar merupakan petualangan hidup, yakni belajar tanpa batas usia dan terus berpikir kreatif, inovatif, energik, produktif, berwatak kerja keras, menghargai waktu, pantang menyerah, dan menemukan solusi secara mandiri.

Konsep pemikiran yang dilontarkan tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara masih relevan untuk menyikapi kondisi bangsa saat ini yang perlu perbaikan. Konsep pemikiran tersebut tidak hanya memberikan ajaran yang relevan untuk masa lalu, tetapi juga untuk menyikapi kehidupan berbangsa dan bernegara pada saat ini. Khusus untuk “Konsep Tiga Dinding” perlu mendapatkan perhatian lebih mengingat konsep tersebut sangat sesuai untuk dikembangkan di Indonesia.

Dalam kaitannya dengan hal di atas, pendidikan kita di masa datang perlu disinergikan antara teori dan aktualisasi di dunia kerja agar sistem pendidikan nasional melahirkan tenaga kerja yang memiliki daya saing, jiwa kemandirian, inovatif, dan kreatif di dunia internasional. Sistem pendidikan yang baik dan benar akan mampu mengubah sebuah bangsa menjadi maju bahkan mampu mengubah status bangsa ke arah yang lebih baik sehingga dihormati di mata dunia.

Serat Wedhatama sebagai suatu konsep kebijaksanaan hidup yang berisi pengetahuan tentang keutamaan hidup – yang di dalamnya terdapat istilah matiraga – merupakan jalan untuk mencapai tujuan pendidikan, seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Dengan wening, dunung, dan akhirnya menang segala permasalahan, khususnya dalam bidang pendidikan, akan dapat terselesaikan karena pada dasarnya permasalahan timbul sebagai akibat nafsu serakah, iri, amarah, dan birahi manusia.

Pendidikan itu berupa upaya mempertajam akal (kognitif),  rasa (afektif), dan  karya/tindakan (psikomotorik) untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan sebagai hasil budi daya manusia, seperti ilmu pengetahuan, religiusitas, etika, estetika, dan kecakapan hidup. Tujuan pendidikan itu sendiri adalah mamayu hayuning salira, bangsa, manungsa/bawana, atau mencita-citakan kebahagiaan diri, bangsa, dan umat manusia sedunia.

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.