PGRI Wajah Baru

PGRI Wajah Baruby Tabloid Pendidikan Onlineon.PGRI Wajah BaruArtikel, TabloidPendidikan.Com – Saya berkelakar pada teman sejawat “Jumlah guru hanya penting saat pesta demokrasi dan itupun hanya satu hari, sesudahnya dicampakan dan dilupakan, namun perjuangan guru perlu puluhan tahun. Dengan apa perjuangan puluhan tahun itu mesti disukseskan? Yang jelas bukan hanya mengandalkan jumlah melainkan dengan prestasi dalam bentuk soliditas dan solidaritas kolektif guru. Prestasi […]

lbqd53p4

Artikel, TabloidPendidikan.Com – Saya berkelakar pada teman sejawat “Jumlah guru hanya penting saat pesta demokrasi dan itupun hanya satu hari, sesudahnya dicampakan dan dilupakan, namun perjuangan guru perlu puluhan tahun. Dengan apa perjuangan puluhan tahun itu mesti disukseskan? Yang jelas bukan hanya mengandalkan jumlah melainkan dengan prestasi dalam bentuk soliditas dan solidaritas kolektif guru. Prestasi apa lagi yang mesti diperlihatkan selain soliditas dan solidaritas? Prestasi kinerja, keteladanan, kejujuran dan berorientasi masa depan. Berkhidmat pada umat di semua jenjang dengan pendekatan kerahmatan.IMG-20171016-WA0010

Guru anggota PGRI sebaiknya tidak hanya hadir di ruang kelas melainkan hadir diruang-ruang publik. Mulai dari RT, kelurahan, desa, kecamatan dan semua ruang layanan publik sebaiknya para guru “terlibat” mendapat amanah melayani dan berkontribusi pada kepentingan bangsa. Tugas edukasi formal guru memang di ruang kelas, namun misi edukasi non formal guru harus merambah ke ruang-ruang layanan publik, agar setiap layanan publik lebih “beradab” berkeadilan dan berwajah melayani.

Tidaklah tabu bila seorang guru pada akhirnya melepas jabatan gurunya kemudian “hijrah” amanah pada tugas dan tanggung jawab lain yang tingkat manfaat dan khidmatnya lebih luas. Namun, walaupun demikian sisi pribadi pendidiknya dan “militansi PGRInya” harus tetap melekat dimanapun dan jabatan apapun yang disandangnya. Guru yang menjadi pelayan publik dalam jabatan struktural apapun, sebaiknya mampu menjadi “duta” teladan bagaimana seorang pelayan publik berdedikasi dan berprestasi.

Sahabat PGRI dimanapun berada, sampai detik ini dalam pikiran dan ingatan kita, PGRI identik dengan organisasi perjuangan. Terutama perjuangan kesejahteraan. Memori kolektif anggota PGRI masih menempel kuat bagaimana dulu kita memobilisasi anggota menggoalkan 20 persen anggaran pendidikan, TPG dan berbagai bentuk gerakan yang memperjuangkan nasib guru. Iket kepala, bawa spanduk, turun ke jalan, provokasi, orasi dan diplomasi selalu menjadi alternatif dalam memperjuangkan nasib anggota.

Gerakan demo PGRI memang efektif dan teruji. Solidaritas menguat, kekuatan terlihat dan nasib berubah secara perlahan. PGRI masih identik dengan perjuangan kesejahteraan dan perlindungan bagi para guru. PGRI belum identik dengan peningkatan mutu, kualitas dan kompetensi. PGRI belum identik dengan hadirnya tokoh nasional dan tokoh berprestasi dari internal PGRI. Sekali lagi PGRI masih identik dengan gerakan masa guru dalam memperjuangkan kesejahteraan dan perlakuan diskriminatif dari pihak lain.

Sampai detik ini bila ada masalah yang sangat urgen berkaitan hajat hidup guru maka PGRI dijadikan andalan untuk meneriakan, menyuarakan bahkan mendemo pihak manapun. Ini adalah sebuah beban yang ditimpakan pada PGRI. PGRI terkadang memiliki branding sebagai organisasi “pendemo”. Sulit bagi PGRI untuk keluar dari “branding” pendemo, pengerah masa guru dan bahkan dijadikan “alat bantu” politik di setiap daerah oleh kepala daerah tertentu.

Sahabat PGRI seiring dengan sudah hadirnya anggaran 20 persen pendidikan dan sudah dinikmatinya TPG maka nampaknya provokasi, terikan dan demo sudah menuju kadaluarsa. Zaman berganti wajah, wajah berganti zaman, zaman punya tuntutan baru. Sekarang zaman kompetisi, provokasi dan demo mulai tidak relevan lagi. Kecuali keadaan “gawat darurat”. Zaman percepatan informasi dan menguatnya kompetisi maka prestasi dan kompetensi menjadi branding baru yang jauh akan lebih efektif menjadi “alat perjuangan”.

Mengapa prestasi dan kompetensi menjadi lebih efektif? Karena prestasi dan kompetensi akan bermuara pada hebatnya, paripurnanya pelayanan para guru anggota PGRI terhadap tugas utamanya yakni melayani masa depan peserta didik. Melayani masa depan peserta didik hanya bisa efektif oleh guru yang kompeten dan prestatif. Guru pendemo, jago teriak belum tentu pandai mencetak peserta didiknya menjadi seorang yang sukses.

Seiring dengan era perubahan zaman. Kini PGRI harus menata “wajahnya” supaya kelihatan tampilan pendidiknya bukan penghardiknya. Guru adalah pendidik yang benar-benar harus memiliki kemampuan mengedukasi peserta didik di internal sekolah. Begitupun saat nasib guru bermasalah maka setiap guru secara kolektif dan terkoordinir harus mampu mengedukasi berbagai pihak eksternal yang terkait dengan masalah guru.

Didiklah para calon pejabat agar kelak regulasi dari pejabat hasil didikan para guru berpihak pada pendidikan, berpihak pada masa depan dan berpihak pada kesejahteraan guru. Sehebat apapun perjuangan guru hari ini dalam memperjuangkan nasibnya bila proses mendidik saat ini buruk dan terabaikan maka akan lahir buah proses yang tak baik. Bisa terjadi lahir para birokrat, pejabat, politisi, penegak hukum dan pengusaha hitam karena proses pendidikian yang buruk. Pendidikian buruk bisa karena kinerja para guru yang tidak profesional dan minus prestasi.

Guru akan sejahtera, terlindungi dan meningkat karirnya ternyata bukan oleh teriakan dan banyaknya guru berkumpul, melainkan karena hebatnya kompetensi, kreatifitas, inovasi, kuatnya belajar dan banyaknya karya yang dihasilkan. Anak didik adalah karya terbaik yang akan mengubah nasib bangsa bahkan nasib guru pada masa depan. Guru harus punya karya dalam bentuk manusia dan non manusia. Karya manusia lahirnya peserta didik yang berprestasi dan yang non manusia hadirnya berbagai karya kreatif berkaitan dunia pendidikan.

Tugas utama guru pada dasarnya adalah mengedukasi publik. Bentuknya bisa publik peserta didik, masyarakt umum bahkan birokrasi. Dengan apa mengedukasinya? Tentu dengan prestasi, dedikasi, keteladanan dan karya kolektif guru yang manfaatnya sangat strategis bagi bangsa dan negara. Guru turun kejalan identik dengan masa lalu, masa kini adalah guru turun memberi jalan. Memberi solusi, alternatif, informasi dan peneduh bagi publik yang terkadang mudah gaduh dan sebagian sumbu pendek.

Di era informasi, era IT, era literasi dan era disrupsi maka guru yang kompeten dan berprestasilah yang akan menjadi pemenang dari sebuah kompetisi sehat dalam berbagai lini kehidupan. Guru harus hadir sebagai pemenang dari perlombaan terbuka kehidupan dalam dunia publik yang semakin complicated. Hanya prestasi dan kompetensilah modal zaman ini agar segala sesuatu dapat berdiri tegak. Prestasi adalah modal era kompetisi. Prestasi adalah akuntabilitas. Prestasi adalah karya yang berbicara banyak.

Satu karya dahsyat seorang guru bisa dibicarakan positif oleh seribu orang. Namun, seribu orang teriak tanpa karya akan sangat sulit mendapatkan komentar apresiasi publik. Guru saatnya “berteriak” melalui prestasi, dedikasi, karya, kolaborasi, keteladanan, penguatan organisasi dan kemitraan mutualisma dengan pemerintah. Guru saatnya “bergaya” dalam tampilan penuh pesona prestasi bukan penuh keluh kesah yang menjelaskan penderitaan internal kita. Mari kita kemas “penderitaan” internal dengan bentuk lain dan lebih inovatif dan diperhitungkan.

PGRI sebagai wadah para guru yang mayoritas sarjana sudah sepantasnya menjadi agen of sukses bagi internal guru dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Ingat! Para calon guru, anda dan saya mayoritas bukanlah berlatar belakang siswa berprestasi dan ranking terbaik. Mayoritas calon guru bisa jadi berasal dari siswa-siswa ranking menengah ke bawah, plus dari pinggiran. Jadi akan sangat sulit para guru saat ini yang latar belakangya adalah siswa kurang berprestasi untuk digenjot menjadi pribadi berprestasi. Butuh proses yang extravaganza.

Coba kita lihat realitas kekinian. Mengapa tulisan-tulisan terbaik di media nasional sejenis Kompas, Republika, Media Indonesia dll. bukan diisi oleh para pendidik yang ada di PGRI? Mengapa para pengamat politik dan berbagai bidang lainnya bukan terlahir dari guru? Mengapa guru dan PGRI masih identik dengan komunitas “tukang ngajar” bukan kekuatan moral intelektual yang terdepan di negeri ini? Kita baru memiliki kekuatan jumlah bukan kekuatan karya dan prestasi.

Sahabat PGRI, jumlah sebenarnya hanya penting untuk statistik. Jumlah hanya lebih penting saat akan ada pesta demokrasi. Terkadang PGRI identik dengan “santapan” para makelar politik untuk “dihisap” suaranya. Selanjutnya PGRI terkulai tanpa daya ketika pesta demokrasi berakhir. Agar PGRI berdaya perlu meningkatkan “jumlah prestasi” bukan hanya jumlah anggota, yang indah terlihat adalah bukan anggota PGRI dimana-mana melainkan prestasi PGRI dimana-mana.

Prestasi apa yang urgen bagi anggota PGRI? Mulai dari yang sederhana. Jadilah guru yang memiliki kinerja baik, berdedikasi dan menjadikan pekerjaannya sebagai sebuah kehormatan yang membanggakan. Bukankah menurut Presiden Jokowi menjadi guru identik dengan kerja kenabian/profetik? Ini sebenarnya bukan pujian melainkan tantangan bahwa para guru harus “hebat” seperti para nabi. Pembelajar, pemberani, pembawa pesan pengubah budaya, jujur, cerdas dan visioner. Para nabi adalah sosok terbaik pada zamannya. Apakah para guru menjadi sosok-sosok terbaik saat ini?

Menjadi sosok-sosok terbaik adalah tantangan sepanjang zaman karena zaman hanya “ramah” pada sosok-sosok terbaik. Seleksi alam di universitas kehidupan ini bukan berpihak pada jumlah atau ukuran besar atau kecil melainkan kepada prestasi “beradaptasi” terhadap tuntutan zaman yang terus mendisrupsi setiap zona nyaman dan status quo. Kalau zaman berpihak pada jumlah dan kebesaran mungkin sampai saat ini dinosaurus akan tetap ada, realitasnya? Butuh keterjagaan, keawasan, kewarasan dan kecerdasan dalam melihat fenomena zaman.

Para pendidik hari ini yang tergabung dalam PGRI sebaiknya mulai berbenah diri secara personal dan organisasional agar menjadi bagian dari komunitas berprestasi, penuh karya dan inovasi dalam mengembangkan karir dan organisasi. Minimal membenahi kompetensi diri dan organisasi. Bukankah organisasi PGRI mayoritas masih membutuhkan banyak prestasi? Bukankah soliditas dan kesadaran kolektif anggota masih harus terus dibenahi. Bukankah iuran anggota yang seharga semangkok baso masih macet dan belum disiplin?

Bukankah setiap rapat-rapat PGRI kebanyakan terlambat. Bukankah para guru, kepsek, pengawas, dosen kehadiran hatinya di PGRI hanya semu-semu saja. Bukankah PGRI bagaikan “organisasi korban” para anggotanya? Mengapa korban? Bukankah para guru, dosen, kepsek, pengawas mendapatkan TPG karena perjuangan PGRI? Setelah TPGnya didapatkan PGRInya diabaikan. Ibarat kacang lupa kulitnya. Rupanya para guru, dosen, kepsek dan pengawas bukan melupakan melainkan memang sudah tidak berkulit PGRI. Maaf ini realitas.

Yu berprestasi dalam wujud sadar dan waras diri. PGRI adalah rumah prestasi kita. Soliditas, solidaritas, perlindungan, kesejahteraan, karya, inovasi, alternatif dan berbagai terobosan cerdas pendidikan harus terlahir dari rumah PGRI. PGRI harus menjadi “Rumah Perubahan” guru. Bisakah? Bisa bila wajahnya berubah dari teriak, menghujat, cengeng dan malas menjadi para pekerja berprestasi di setiap satuan pendidikannya. Guru adalah pelayan masa depan peserta didik. Sukseskan mereka maka “hukum karma kesuksesan” akan menimpa guru. Berprestasi melayani peserta didik maka kesejahteraan yang kaffah akan didapat.

Semoga suatu saat kesejahteraan kolektif guru akan terwujud dengan menebar kesejahteraan berprestasi di setiap kita bekerja. Tidak ada sukses tanpa proses yang jatuh-bangun. Setiap sukses dan kesejahteraan kolektif mesti dibangun oleh kerja kolektif atas komando pimpinan yang memiliki hati guru. Disetiap jiwa berhati guru maka ada spirit profetik didalamnya. Disetiap jiwa profetik ada koneksi illahiah yang dahsyat. Ketika Tuhan sudah menjadi bagian dari komunitas kita karena kita berkarya dan berprestasi maka tujuan terbaik organisasi akan mudah diraih.

Saya sedikit khawatir guru demo itu diidentikan dengan tukang ojek, tukang angkot dan ormas yang sudah tak mampu lagi beradaptasi dengan sulitnya kehidupan karena minus prestasi dan inovasi. Saya khawatir demo jadi stigma publik karena ada ketidakmampuan didalam jiwa kolektif pendemo. Saat ini pendemo yang menolak gojek, grab dan uber dibuly habis-habisan dalam dunia maya. Bukankah masyarakat makin tak suka bantuan transportasi yang mahal dan seenae dewek dalam melayani konsumen? Bukankah gojek yang didemo malah makin dibutuhkan? Itu karen “prestasi” dan inovasi dalam dunia transportasi.

Nah, bagaimana guru. Apakah ada inovasi dan prestasi dalam dunia “transportasi” pendidikan? Adakah inovasi dan wajah baru dalam dunia organiasi profesinya? Di era disrupsi setiap pemalas yang nongkrong di zona nyaman sebentar lagi akan menemui ajalnya. Nah hati-hati sahabat guru yang tergabung dalam PGRI. Guru-guru pemalas biasanya teriaknya kenceng dan prestasinya sulit dibuktikan. Yu jadilah guru berprestasi dengan serius dan bangga menjadi pelayan anak bangsa. Agar kelak anak bangsa mampu mensejahterakan bangsanya dimana didalamnya ada komunitas para guru.

Prestasi dalam pengertian sederhanana adalah ketika para guru secara kolektif bekerja melintasi batas tuntutan formalnya. Termasuk aktif di organiasi profesi PGRI adalah sebuah prestasi istimewa karena kebanyakan apatis kecuali hanya butuh TPGnya saja. Masih bisa ditoleransi bila TPGnya dinikmati tapi tetap menjadi anggota PGRI walaupun pasif. Hal sadis kelewat sadis adalah ketika TPG hasil perjuangan PGRI dinikmati bersama anak istri tetapi desersi dari keanggotaan PGRI. Sadis! Ini adalah tipe guru yang berburu “ghonimah”.

Yu kita rawat Indonesia melalui tangan-tangan para guru berprestasi. Presiden Jokowi punya “tangan kanan” bidang pendidikan yakni Pak Mendikbud. Pak mendikbud punya “kaki” pendidikan untuk melangkah yakni PGRI. Kita dukung Kemdikbud. Kita (PGRI) adalah kaki dari Kemdikbud. Kemdikbud dapat melangkah dengan baik dengan kaki yang baik melalui PGRI. Merawat PGRI, merangkul dan terpadu dengan guru anggota PGRI adalah keniscayaan. Guru-guru ibarat jari-jari kaki yang cantik, kuat mencengkram. Bila PGRI selalu diabaikan dan tidak dilibatkan dalam setiap regulasi bidang pendidikan maka pendidikan Indonesia akan invalid, difabel dan stag. Bila dilibatkan, diraih, difasilitasi dan melekat dengan Kemdikbud maka “jalan tol” tujuan pendidikan nasional akan lebih mudah tercapai. Yu merefleksi kolektif.Oleh Dudung Nurullah Koswara

Mandiri

banner (800 x 164)

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.