Pendidikan yang Berkarakter

Pendidikan yang Berkarakterby Tabloid Pendidikan Onlineon.Pendidikan yang BerkarakterArtikel, TabloidPendidikan.Com – SESUNGGUHNYA kita telah mengalami “kegagalan” dalam membangun dunia pendidikan kita. Persoalan yang seakan tidak ada habisnya, semakin menempatkan kualitas kita pada titik nadir. Ada keinginan yang cukup besar dari Presiden Joko Widodo betapa pentingnya pendidikan karakter dalam rangka membangun bangsa yang berwatak Pancasila, dengan berkaca pada banyak peristiwa yang terjadi dalam dunia pendidikan […]

lbqd53p4

Artikel, TabloidPendidikan.Com – SESUNGGUHNYA kita telah mengalami “kegagalan” dalam membangun dunia pendidikan kita. Persoalan yang seakan tidak ada habisnya, semakin menempatkan kualitas kita pada titik nadir.

Ada keinginan yang cukup besar dari Presiden Joko Widodo betapa pentingnya pendidikan karakter dalam rangka membangun bangsa yang berwatak Pancasila, dengan berkaca pada banyak peristiwa yang terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Arifuddin Saeni Daeng Emba

Arifuddin Saeni Daeng Emba

Paling anyar yang disinggung orang nomor satu di Indonesia ini, kasus tewasnya guru kesenian SMAN 1 Torjun Sampang Jawa Timur, akibat penganiayaan salah seorang siswanya.

Belum lagi kasus penganiayaan yang dilakukan orang tua siswa kepada Kepala Sekolah SMPN 4 Lola Sulawesi Utara, Astri Tampi, (13/2), hanya karena menegur siswanya yang nakal.

Kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, tentu saja mengundang sejuta tanda tanya tentang sejauh mana pengelolaan sistem pendidikan kita, bagaimana hubungan antara siswa, orang tua siswa, lingkungan dan pihak sekolah.

Mungkin karena kita abai dengan hubungan-hubungan tersebut, mengakibatkan kekerasan seakan-akan tak pernah ada habisnya.

Kendati ada keinginan yang cukup besar dari Bapak Joko Widodo, tapi bukan berarti tidak akan menghadapi hadangan yang cukup besar.

Hadangan itu bukan datang dari internal pengelola pada setiap jenjang pendidikan, tapi yang lebih besar justru dari pihak eksternal.

Bagaimana lingkungan mampu memengaruhi perilaku dan psikologis anak didik, ditambah dengan sikap apatis orang tua siswa terhadap pembelajaran anak-anak mereka di sekolah.

Hadangan dari persoalan ini, sering kita melihat kalau sekolah berada dalam kesendirian menghadapi dan memecahkan masalahnya sendiri.

Beban yang cukup berat ini membuat mereka lelah, sehingga sering cuek dengan apa yang muncul di sekolah.

Dalam kesendirian sekolah berusaha survive dengan penegakan disiplin—yang kemudian diterjemahkan oleh pihak lain yang sebagai kekerasan fisik dan Psikologis.

Orang tua siswa kerap melakukan perlawanan dengan melaporkan ke pihak kepolisian.

Ironisnya, sekolah kadang berada pada posisi yang dipersalahkan dengan alasan memelihara kekerasan di sekolah, tanpa melihat bagaimana tabiat siswa yang sesungguhnya.

Bagaimana mereka memalak teman-temannya, melakukan bullying dan bahkan terlibat penggunaan obat terlarang.

Padahal, penegakan disiplin sebenarnya sudah diatur di dalam Peraturan Pemerintah No74 Tahun 2008, pasal 39 ayat 1, bahwa guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, kesusilaan dan norma kesopanan.

Kendati pun ada pasal lain yang mengatur tentang perlindungan guru, pasal 40 dan 41. Sayangnya, aturan ini tidak menjadikan guru terlindungi.

Akibatnya, guru seakan-akan hanya menyelesaikan tanggungjawab jam mengajarnya, soal perilaku siswa tidak lagi menjadi perhatian yang cukup bagi guru.

Sikap apatisme dan ketakutan diri terhadap gugatan orang tua siswa saat penegakan disiplin, semakin menambah beban negara dalam merumuskan perbaikan kualitas pendidikan kita.

Belum lagi tekanan eksternal yang diterima para pengelola sistem pendidikan kita di sekolah, membuat kalangan guru menjadi tidak tenang dalam menjalankan tanggungjawabnya.

Kesendirian Sekolah
Dari data salah satu koran nasional, Kompas (7/2), sepanjang tahun 2017 hingga awal 2018, setidaknya Presiden Joko Widodo sudah lima kali mengungkapkan perlunya pendidikan karakter pada semua jenjang pendidikan.

Penekanan ini disampaikan sekaitan dengan semakin memburuknya perilaku siswa dan orang tua siswa terhadap guru.

Rujukan yang dipakai dalam membangun karakter pada setiap jenjang pendidikan sudah barangtentu mengacu pada seberapa jauh muatan karakter yang ada dalam kurikulum yang akan dibuat oleh pemerintah.

Gambaran tentang penguatan karakter dalam kurikulum tersebut, harus tergambar dengan jelas sehingga mampu mengahapus stiqma kekerasan dalam sekelolah.

Pemerintah diharapkan bukan hanya mampu membuat kurikulum yang berbasis karakter, tapi bagaimana kurikulum itu bisa menjembatani hubungan secara horisontal antara guru, siswa, orang tua siswa dan lingkungannya.

Hubungan yang tidak berjalan dengan baik itu, akan membuat sekolah berada dalam kesendirian.

Sendiri dalam membangun siswa yang memiliki karakter seperti yang diinginkan oleh pemerintan lewat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendi, yang pada akhirnya akan mengalami kelelahan.

Pada tahun 2017 ada memang upaya yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan membangun hubungan kemitraan antara sekolah dan orang tua siswa lewat Penguatan Pendidikan Karakter atau PPK.

Dengan adanya kolaborasi tersebut, maka hubungan yang selama ini tidak berjalan dengan baik dapat terbangun kembali.

Dengan membangun pola komunikasi dalam bentuk pertemuan secara berkala, antara pihak sekolah, orang tua siswa dan tokoh masyarakat, maka problem yang melingkupi dunia pendidikan kita dapat diatasi dengan baik.

Persoalan antar personal siswa ataukah adanya kelompok geng di sekolah dapat dikikis dengan komunikasi tersebut.

Komunikasi tersebut, tidak lagi membuat sekolah dalam kesendiriannya membangun karakter anak.

Persoalan yang datang baik internal maupun eksternal, utamanya dalam bentuk tindak kekerasan bisa teratasi. [TT]

Ditulis Oleh : Arifuddin Saeni Daeng Emba
Alumni Biologi ’85 IKIP Ujungpandang kini ASN Pemkab Gowa.

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.