Meningkatkan Ketrampilan Dosen Untuk Memperbaiki Kualitas Pembelajaran Di Pendidikan Kebidanan

Meningkatkan Ketrampilan Dosen Untuk Memperbaiki Kualitas Pembelajaran Di Pendidikan Kebidananby Tabloid Pendidikan Onlineon.Meningkatkan Ketrampilan Dosen Untuk Memperbaiki Kualitas Pembelajaran Di Pendidikan KebidananOleh :Erika Agung Mulyaningsih PENDAHULUAN TabloidPendidikan.Com – Target MDGs yang tidak terpenuhi tahun 2015 terkait Angka Kematian Ibu  (AKI) di Indonesia merupakan salah satu masalah yang serius, bahkan, target kematian ibu di tahun 2015 adalah 102, akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, berada diangka 228 per 100.000 kelahiran hidup. (Unicef Indonesia) Sedangkan menurut Pusat Data […]

lbqd53p4

Oleh :Erika Agung Mulyaningsih

PENDAHULUAN

TabloidPendidikan.Com – Target MDGs yang tidak terpenuhi tahun 2015 terkait Angka Kematian Ibu  (AKI) di Indonesia merupakan salah satu masalah yang serius, bahkan, target kematian ibu di tahun 2015 adalah 102, akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, berada diangka 228 per 100.000 kelahiran hidup. (Unicef Indonesia) Sedangkan menurut Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI tahun 2014, Proporsi pertolongan persalinan di Indonesia paling besar adalah ditolong oleh bidan, yaitu 68,6%, dilanjutkan oleh dokter (18,5%), tenaga non kesehatan 11,8% , tanpa ada pertolongan sebesar 0,8%, dan ditolong perawat hanya 0,3%.  Dari data tersebut, untuk proporsi kelahiran berdasarkan tempat bersalin paling banyak (38%) di RB/klinik/praktek nakes.  Jika dilihat dari data tersebut, telah memenuhi target yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan telah lebih dari 90%.

Seperti disampaikan oleh Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes dalam Berita Satu (2014) “Semakin menjamurnya sekolah tinggi kebidanan di Indonesia menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas bidan di Indonesia.  Ini membuat kami resah, apalagi pengawasannya kurang sehingga kita tidak bisa menjamin lulusannya bisa sesuai seperti yang diharapkan” kata Emy Nurjasmi kepada Beritasatu.com di Jakarta, 31 Januari 2014.  Sejalan dengan yang disampaikan oleh Ketua IBI, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi (Kamis, 30 Januari 2014) dalam menyampaikan kepada Kompas bahwa kualitas bidan di Indonesia cenderung menurun dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.  Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi, mengingat bidan berperan penting dalam memasyarakatkan reproduksi yang sehat untuk menekan AKI.  Pada waktu yang sama Ketua IBI juga menyatakan terdapat 769 sekolah akademi kebidanan setingkat D3 di seluruh Indonesia.  Bahkan saat ini, disampaikan oleh Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani hari Rabu, 08 Juni 2016 dalam JPNN (jumlah bidan membludak, kompetensi diragukan) bahwa jumlah bidan di Indonesia mencapai 325.000 orang di seluruh Indonesia, dan menurut WHO sudah melebihi jumlah yang wajar

Jika dilihat dari banyaknya sekolah kebidanan, sehingga menyebabkan membludaknya jumlah bidan di Indonesia, hal ini seharusnya dapat menekan kematian ibu di Indonesia, namun, dengan kualitas yang rendah, hal ini justru jadi boomerang bagi keselamatan ibu.  Karena itu, mengembalikan kualitas bidan diawali dari proses perkuliahan selama menempuh pendidikan bidan.  Untuk menghasilkan bidan-bidan yang berkualitas, tentu harus ada pendidikan beserta komponen-komponennya yang juga berkualitas.

Erika Agung Mulyaningsih, Sekretaris Program Studi D III Kebidanan, STIKES Pemkab Jombang

Erika Agung Mulyaningsih, Sekretaris Program Studi D III Kebidanan, STIKES Pemkab Jombang

ISI

            Seorang filsuf asal Amerika John Dewey, mengatakan bahwa sekolah adalah laboratoriumnya kehidupan. Maka menjadi tugas sekolah (dalam hal ini pendidikan kebidanan) untuk mendesain suatu pendidikan agar dapat menghasilkan bidan-bidan yang  bisa menjawab tantangan dan masalah di kehidupan nyata.  Sedangkan dalam pendidikan, dosen merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, karena dosen merupakan desainer suatu pembelajaran, dosen merancang proses, media dan metode yang digunakan dalam pembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.  Maka sangat penting bagi dosen untuk mengetahui kondisi nyata agar dapat merancang pembelajaran yang hasil akhirnya, mahasiswa dapat menyelesaikan masalah nyata yang akan dihadapi ketika menjadi bidan.

            Mempelajari ilmu kebidanan pada dasarnya adalah seni, mengapa dikatakan seni? Karena ketika menghadapi pasien dengan segala keunikannya sebagai manusia, tidak serta merta suatu teori dapat diterapkan secara mudah.  Misalnya, ketika mempelajari teori tentang pemasangan infuse, dijelaskan bahwa sudut memasukkan jarum adalah 15-20ᵒ.  Akan tetapi, pada kenyataannya hal ini tidak bisa diberlakukan demikian kepada seluruh pasien, karena keberhasilan suatu pemasangan infus sangat tergantung pada keahlian pemasang yang dapat melihat bahwa kondisi pembuluh darah bisa berubah tergantung dari kondisi pasien.  Ketika di perkuliahan, mahasiswa belajar melakukan pemasangan infus antar teman, hal ini baik, karena berarti mahasiswa telah belajar menerapkan langsung kepada manusia.  Akan tetapi jika dalam pembelajaran, terdapat mahasiswa yang langsung bisa memasang infus, tidak berarti dia akan selalu berhasil ketika memasang infus, karena hal ini juga tergantung bagaimana kondisi pembuluh darah pasien.  Karena ketika mahasiswa menginfus temannya di perkuliahan, artinya mereka menginfus orang yang sehat, akan berbeda tingkat kesulitannya ketika mereka menemui pasien yang dehidrasi, pasien yang sangat gemuk, ataupun pasien yang syok.  Maka dalam hal ilmu kebidanan, tentu tidak cukup hanya sekedar mempelajari teori, tapi yang juga penting adalah skill, skill sangat berbeda dengan teori, karena teori bisa dipelajari, tetapi untuk mempunyai skill tidak bisa hanya dipelajari dari teori.

            Dari contoh kecil diatas, nyatalah bahwa untuk bisa menghasilkan bidan yang kompeten, yang berkualitas, harus melalui desain pembelajaran yang tepat.  Realitanya adalah, dengan menjamurnya sekolah kebidanan, banyak institusi kebidanan setingkat Diploma III, langsung merekrut beberapa lulusannya yang fresh graduate, lulus dari D3 kemudian langsung sekolah D4, langsung mengajar dan dengan adanya peraturan bahwa dosen minimal S2, ditindaklanjuti dengan langsung sekolah S2.  Secara gelar akademis, layak untuk menjadi dosen, akan tetapi sangat kurang dari segi pengalaman ketrampilan dalam memberikan asuhan kebidanan.  Menurut saya, ini masalah yang penting, karena ketika dosen sangat kurang pengalaman klinik, bagaimana mungkin dia bisa mendesain suatu pembelajaran dengan tepat seperti keadaan di dunia nyata, sedangkan ketrampilan dan berbagai fenomena memberikan asuhan kebidanan tidak bisa dipelajari dari teori. Beberapa instansi pendidikan D4 bidan, telah mensyaratkan harus mempunyai pengalaman klinik minimal 2 tahun sebelum melanjutkan pendidikan di D4 bidan, tetapi tidak semua instansi pendidikan demikian.  Banyak dari institusi pendidikan D4 tidak mensyaratkan adanya pengalaman klinik.  Dan hal ini telah menjadi isu yang besar dikalangan bidan maupun sejawat yang lain.

            Untuk menjawab masalah tersebut, maka dosen kebidanan harusnya adalah orang yang bukan hanya mau uterus belajar teori, tetapi juga mau belajar mengasah ketrampilannya dalam memberikan asuhan kebidanan.  Karena untuk menolong persalinan, tidak semua pasien dapat diperlakukan  seperti yang tercantum di dalam check list penilaian pertolongan persalinan, ada banyak hal yang hanya bisa dipelajari ketika terbiasa melakukan.  Seperti halnya yang menjadi guru renang adalah orang yang mahir berenang, bukan hanya orang yang tahu teori berenang dan mengajarkan berenang sementara dirinya berada diatas kolam renang sambil membawa check list. Tentu guru renang ini harus masuk ke dalam kolam dan masih AKTIF melakukan olah raga renang.  Seperti halnya orang yang mengajar les sepatu roda adalah orang yang telah mahir dan terus melakukan sepatu roda, bukan orang yang mempelajari cara mengajar sepatu roda dan melakukan penilaian dengan check list sementara dirinya sendiri telah lama tidak menggunakan sepatu roda.

            Dengan demikian, terjawablah bahwa untuk menghasilkan bidan yang kompeten, maka harus dididik oleh dosen yang kompeten baik teori maupun prakteknya.  Dan hal ini semestinya ada dalam komponen penilaian Penjaminan Mutu Internal di Perguruan Tinggi.  Jika dosen kebidanan tidak bisa praktek mandiri karena waktu ataupun hal lain, suatu institusi pendidikan harus bisa memfasilitasi dosen-dosennya untuk tetap aktif adalam memberikan asuhan, misalnya dengan cara melakukan kerjasama dengan Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, ataupun Bidan Praktik Mandiri, kerjasama yang dibangun adalah untuk memagangkan dosennya di Rumah Sakit, Puskesmas atau BPM.  Di beberapa instansi pendidikan telah memberikan aturan magang beberapa bulan bagi dosen baru.  Menurut saya, hal ini tidak tepat, karena skill sifatnya bisa berkurang, tentu yang aktif menolong persalinan walaupun dua bulan sekali, akan lebih baik dibanding yang melakukan pertolongan persalinan setiap hari tapi hanya sampai beberapa bulan, selanjutnya bertahun-tahun kemudian tidak pernah melakukan pertolongan persalinan. Dengan tidak aktif atau tidak secara langsung memberikan asuhan, dosen bisa kehilangan skillnya, walaupun terus mempelajari teori.  Oleh karena itu, institusi pendidikan melalui SPMI dapat menilai kemampuan dosen bukan hanya penguasaannya terhadap teori, tetapi juga ketrampilannya secara nyata dalam memberikan asuhan, dan SPMI bisa mendapatkan penilaian tersebut dari RS tempat dosen magang.  Magang menjadi pilihan yang relative bisa dikerjakan, karena setiap institusi pendidikan kebidanan pasti mempunyai kerjasama dengan lahan praktik, maka sebaiknya memanfaatkan kerja sama tersebut bukan hanya untuk praktik mahasiswanya, tetapi juga untuk magang dosennya, tidak perlu setiap hari, dosen bisa magang dua atau tiga kali dalam seminggu, asalkan dilakukan secara terus menerus, menurut saya 2-3 hari dalam seminggu sudah cukup karena sifatnya bukan untuk mencari target kompetensi seperti mahasiswa.  Dan dengan 2-3 hari dalam seminggu dosen dapat tetap menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan tugas-tugas lain di institusi pendidikan.

            Selain mempunyai manfaat untuk mengasah ketrampilan, magang juga bermanfaat besar bagi kepercayaan diri seorang dosen, ketika melakukan bimbingan ptraktik klinik, dosen tidak hanya berkunjung ke Rumah Sakit untuk menilai bagaimana laporan asuhan mahasiswa, melainkan dapat melakukan pembelajaran dengan metode Bed Side Teaching, mendampingi mahasiswa secara langsung dalam memberikan asuhan kepada pasien.  Sehingga saat itu dosen bisa mengetahui sejauhmana kemampuan mahasiswa, baik secara kognitif, afektif maupun psikomotor, bukan hanya laporan tertulisnya.

            Manfaat lainnya adalah, bisa terjalin komunikasi yang baik antara dosen dengan pembimbing klinik, dan hal ini penting sebagai masukan dari stake holder dalam menyusun kurikulum dan merancang suatu pembelajaran.  Dosenpun tidak akan terganggu dalam melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, karena dengan mengetahui kondisi di lapangan, akan banyak memberikan ide / inspirasi penelitian dan pengabdian masyarakat, sehingga penelitian dan pengabdian yang dilakukan benar-benar bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan  dan masyarakat.

PENUTUP

            Bidan mempunyai peran penting dalam menurunkan Angka Kematian Ibu, karena faktanya persalinan di Indonesia paling banyak ditolong oleh bidan, selain itu, bidan merupakan lini depan yang ada di masyarakat, maka seorang bidan harus mempunyai kompetensi untuk melakukan pemeriksaan pada kasus yang normal, mampu melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan masalah, dan jika menemukan kasus yang perlu rujukan, dapat melakukan pertolongan pertama sehingga didapatkan prognosis yang baik bagi pasien yang ditolongnya.  Dan kualitas bidan sangat ditentukan dari awal pendidikan.  Dalam hal ini dosen merupakan salah satu yang mempengaruhi kompetensi seorang bidan.

            Institusi pendidikan melalui perangkat SPMI dapat melakukan kerjasama dengan instansi yang memberikan pelayanan kesehatan sepertu Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik maupun Bidan Praktik mandiri, untuk dapat memfasilitasi magang bagi dosen, magang dalam hal ini dilakukan hanya beberapa hari (misalnya 2-3 hari dalam seminggu) tetapi dilakukan secara terus menerus.

            Magang dosen memberikan banyak manfaat, antara lain (1) mengasah ketrampilan dan meningkatkan pengetahuan dosen, (2) dapat melakukan metode bed side teaching (3) menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan lahan praktik sehingga dapat memberi masukan bagi perencanaan kurikulum (4) dapat melakukan pengabdian masyarakat dan penelitian yang relevan dengan masalah yang dihadapi masyarkat saat ini.

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.