Literasi: Penawar Demensia Heroisme

Literasi: Penawar Demensia Heroismeby Tabloid Pendidikan Onlineon.Literasi: Penawar Demensia HeroismeArtikel, TabloidPendidikan.Com – Menurut anda, dapatkah generasi milenial menyebutkan nama dan peran kepahlawan lebih dari 10  pahlawan nasional? Satu iklan layanan masyarakat dari satu stasiun TV swasta memantik pertanyaan ini. Dalam iklan tersebut, beberapa generasi milenial diberikan pertanyaan mengenai nama-nama beberapa pahlawan nasional. Hampir semua pemuda pemudi dalam iklan  tersebut menganggap nama-nama tersebut sebagai nama-nama […]

lbqd53p4

Artikel, TabloidPendidikan.Com – Menurut anda, dapatkah generasi milenial menyebutkan nama dan peran kepahlawan lebih dari 10  pahlawan nasional? Satu iklan layanan masyarakat dari satu stasiun TV swasta memantik pertanyaan ini. Dalam iklan tersebut, beberapa generasi milenial diberikan pertanyaan mengenai nama-nama beberapa pahlawan nasional. Hampir semua pemuda pemudi dalam iklan  tersebut menganggap nama-nama tersebut sebagai nama-nama jalan utama di kotanya. Apakah benar nama-nama pahlawan nasional tidak lebih dari nama bangunan, jalan, atau sekadar gambar di kertas mata uang?

Ratri Harida

Ratri Harida

Padahal remaja–remaja kita telah dikenalkan dengan nama-nama pahlawan nasional semenjak bangku TK atau bahkan pendidikan anak usia dini. Kartini mungkin menjadi nama pahlawan yang paling diingat oleh anak-anak usia dini. Selain diperkenalkan melalui lagu, hari kelahirannya diperingati dengan beragam pawai busana. Tentu bukan perkara mudah jika untuk mengendapkan ingatan generasi muda, setiap pahlawan di gubahkan lagu dan diperingati hari kelahirannya.

Melawan lupa adalah hal yang gampang-gampang susah untuk dilaksanakan. Pengenalan terhadap heorisme para pahlawan akan lebih mudah dilaksanakan melalui perantara gerakan literasi. Gerakan literasi adalah sarana termudah untuk memberikan iinformasi awal, pengenalan lebih lanjut, dan pemikiran kritis terhadap 170 pahlawan nasional yang  telah ditetapkan sampai tahun 2016 dan tambahan 4 nama berdasarkan Keputusan Presiden RI nomer 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional. Rosihan Anwar dalam bukunya Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid 4  (2010:131) menyatakan bahwa buku biografi pahlawan adalah jenis buku biograf I yang laris diterbitkan. Walaupn tren penulisan buku biografi pahlawan nasional mengalami penurunan sebanyak 30% dalam  kurun waktu 1990 dan 2000-an. Dari statistik lawas ini seharusnya remaja Indonesia memiliki sumberdaya  yang cukup memadai untuk berliterasi mengenai heroisme dalam negeri.

Tentu ada rangkaian proses literasi yang hilang, jika sekarang terjadi fenomena remaja yang lebih hafal nama pahlawan-pahlawan dalam komik milik raksasa penerbit luar negeri dari pada pahlawan negeri sendiri. Banyaknya terbitan mengenai biografi pahlawan berbanding terbalik dengan minat baca para remaja terhadap biografi tersebut. Angka rata-rata penjualan buku biografi setahun jarang yang tembus lebih dari1.500 eksemplar (bukuindonesia.com). Mungkin ini adalah salah satu  pendukung fakta bahwa bangsa Indonesia memang memiliki minat baca yang rendah.

Minat baca masyarakat yang rendah adalah adalah satu tugas utama kita bersama. Memperkenalkan kecintaan pada literasi memang tidak mudah apalagi pada jaman digital sekarang ini. Tanpa adanya komitmen terhadap pengembangan kecintaan literasi, terutama pahlawan nasional, bukan tidak mungkin generasi mendatang akan semakin pikun terhadap jasa-jasa para pahlawannya. Dengan mengenal pahlawan-pahlawan nasional, para generasi mendatang akan diberikan kesempatan untuk mengenal sejarah dan mempelajarinya sebagai bagian pendewasaan suatu negara dan pada akhirnya akan menimbulkan semangat nasionalisme yang mengakar.

Gerakan literasi dapat diawali di rumah dengan cara sederhana seperti menyisihkan waktu untuk membacakan cerita tentang para pahlawan nasional dengan segala jasa heroiknya .Dapat pula diselipkan sedikit diskusi dengan anak mengenai cerita pahlawan yang telah didengar. Kemudian gerakan ini dapat dilanjutkan di sekolah, dengan penyediaan buku-buku tentang kepahlawanan di perpustakaan, dan pada momen-momen khusus seperti hari Pahlawan, siswa diberikan waktu khusus untuk membaca biografi para pahlawan tersebut. Dalam dunia digital, Google mungkin merupakan aplikasi pencari yang juga bisa digunakan untuk meningkatkan keingintahuan generasi muda pada pahlawan nasionalnya. Google Doodle sering menggunakan doodle art para pahlawan nasional pada hari peringatannya. Cukup dengan meng-klik doodle art tersebut, maka para pengguna dunia maya dapat dengan mudah menggali informasi mengenai pahlawan tersebut. Gerakan literasi dalam dunia nyata dan maya untuk mengenalkan dan meningkatkan kecintaan terhadap para pahlawan memang selayaknya disegerakan. Dengan meningkatkan kecintaan pada pahlawan melalui membaca, maka remaja jika akan diperkenalkan dengan berbagai aspek kehidupan dari sang pahlawan yang dapat dijadikan teladan bagi para generasi muda di masa mendatang. Hanya dengan membaca, mereka dapat dengan mudah dan murahnya memperoleh pengetahuan mengenai pandangan hidup dan alasan-alasan yang mendasari tindakan-tindakan heroismenya. Apalagi jika setelah membaca para remaja kita diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menuliskan gagasan-gagasan kritis mereka mengenai tindakan heroisme mereka dan tindakan apa yang mereka bisa lakukan dimasa mendatang untuk ikut melestarikan pemikiran para pahlawan tersebut. Memang sulut api literasi untuk membakar lupa akan nilai kepahlawanan akan akan membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk dapat tetap menyala, namun setelah membara maka api tersebut akan meninggalkan bekas yang tak dapat di hapus oleh masa.

Oleh :Ratri Harida

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.