Jen, Kemnaker dan Anak TKI

Jen, Kemnaker dan Anak TKIby Tabloid Pendidikan Onlineon.Jen, Kemnaker dan Anak TKI(catatan singkat di Kegiatan Inkubasi Bisnis Outwall 2018) Oleh: Set Wahedi* Udara di lobby Haris Hotel menebal. Para pengunjung berlalu lalang dengan gegas yang singkat, seolah mereka ingin segera menarik selimut di kamar masing-masing. Jam masih menunjukkan pukul 19.30. Para peserta kegiatan Inkubasi Bisnis Outwall 2018 baru selesai makan malam. Sambil menunggu acara pembukaan, saya beramah […]

lbqd53p4

(catatan singkat di Kegiatan Inkubasi Bisnis Outwall 2018)

Oleh: Set Wahedi*

Udara di lobby Haris Hotel menebal. Para pengunjung berlalu lalang dengan gegas yang singkat, seolah mereka ingin segera menarik selimut di kamar masing-masing. Jam masih menunjukkan pukul 19.30. Para peserta kegiatan Inkubasi Bisnis Outwall 2018 baru selesai makan malam. Sambil menunggu acara pembukaan, saya beramah tamah dengan teman-teman sesama peserta. Kegiatan Inkubasi Bisnis Outwall akan berlangsung selama tiga hari (11-13 Mei).

d060f71b-0310-4c0a-adcf-037bbea03760“Hai, Set,” dari meja dekat dinding sebuah tangan melambai. Saya kenal tangan itu. Nur Faizin, teman kuliah pascasarjana UGM yang kini jadi Asisten Staff Khusus Menteri Tenaga Kerja. Dia memperdengarkan sapaan akrabnya dengan senyum sumringah. Kami bersalaman. Saya sedikit kikuk. Percakapan akan berlangsung canggung, terkaku dalam hati. Beberapa teman membuka percakapan ringan dan nostalgia.

“Langsung dari Jakarta?” Kata-kataku seolah enggan meloncat.

“Dari BPPLK. Bertemu Musthofa, putra bungsu almarhum TKI Zaini,” tanpa menunggu pertanyaan lanjutan, Jen -panggilan akrab Nur Faizin- dengan ritme datar bercerita tentang tugas “istimewa” yang diberikan Menteri Hanif Dakhiri untuk mendampingi Musthafa. Tentang kasus TKI Zaini, saya sedikit mahfum.  “Pak Menteri, selaku pembantu presiden punya tanggung jawab moral untuk mengayomi, mendampingi dan membina keluarga Pak Zaini.” Perlu diketahui, Zaini merupakan TKI asal Madura yang dijatuhi hukuman mati di Arab Saudi. Meski berulang pemerintah sudah melakukan pembelaan, pemerintah Arab Saudi bergeming dengan keputusannya. Zaini dijatuhi hukuman mati.

Jen bersyukur atas tugas mulia diberikan padanya. Dia harus belajar untuk mengayomi dan mendampingi anak (alm.) Zaini. “Saya kira keberpihakan semacam ini yang luput dari perhatian publik. Negara hadir bukan sekadar membela Pak Zaini, tapi juga keluarganya harus diperhatikan. Pak Menteri berharap, setelah menempuh pendidikan kejuruan otomotif di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Kemnaker unit Bandung, Musthafa memiliki keterampilan untuk bersaing di dunia kerja atau memiliki kreativitas untuk berwirausaha.”

Saya tertarik tentang program pendampingan dan pelatihan yang diberikan Kemnaker pada Musthofa. Saya utarakan ketertarikan saya. Selain Musthofa, kemnaker juga melatih kakaknya, Saiful Toriq di jurusan elektro di BPPLK Bekasi. Jen begitu antusias melanjutkan ceritanya. Menurutnya, kasus Pak Zaini memberi banyak hikmah dan pelajaran bagi Kemnaker untuk melakukan berbagai pelatihan dan pembekalan pada para TKI, sehingga mereka memiliki skill yang mumpuni. Selain itu, persoalan TKI bukan sekadar keselamatan kerja dan upah yang layak. Akan tetapi juga harapan dan masa depan anak-anak mereka.

“Kalau kau tahu Musthofa, ketika mendengar bapaknya meninggal, dia shock. Benar-benar shock.” Jen menarik nafas, dan menyeruput juice tomatnya. Baru kali ini Jen begitu berat mengalirkan suaranya. Saya bisa memahami itu. Saya mungkin akan bergetar juga berhadapan dengan anak yang ditinggal tulang punggung hidupnya dengan tiba-tiba.

Bahkan, setelah beberapa minggu kepergian bapaknya, keduanya masih diliputi mendung kehilangan yang mendalam. Saat keduanya diminta untuk mengikuti pelatihan di BPPLK, keduanya tidak langsung memberi respon. “Tidak gampang meyakinkan keduanya dan ibunya.” Ya, tidak gampang Jen, timpal saya dalam hati. Luka kemanusiaan tidak bisa disembuhkan dua-tiga minggu. “Tim Kemnaker tiga kali bolak-balik Jakarta-Bangkalan. Dan saat keduanya bersedia berangkat ke Bandung, alhamdulillah.”

Di tengah kesibukannya, saban akhir pekan, Jen harus ke Bandung bertemu dengan Musthofa. Pada diri Musthofa, Jen pun belajar banyak cara menghadapi kenyataan. “Saat negara hadir, maka warga negara akan memiliki harapan lebih. Mereka akan lebih optimis dalam berkreasi.”

Dan ketika Jen bilang, “Saya bahagia dapat menjadi keluarga mereka”, saya disergap kecemburuan. Tidak semua orang yang diberi kesempatan berbagi dengan orang-orang yang mengalami kemalangan, tapi mereka tegar menghadapinya. Dan saya kira Jen pantas bersyukur dan bahagia dengan tugasnya mendampingi Musthofa. Seperti kalimat penutupnya di pertemuan singkat itu, “Persoalan buruh ternyata bukan sekadar statistik jumlah lapangan kerja dan pendapatan. Tapi persoalan buruh juga berkaitan dengan ruang kemanusiaan kita untuk berbagi pada sesama dan hadirnya harapan bagi kita semua. Bagi kemanusiaan.”

“Selamat bertugas, Jen,”kata saya dalam hati menerima tangannya yang menjabat tangan saya penuh persahabatan di penghujung ramah tamah.

*Esais dan direktur Paelan

Mandiri

banner (800 x 164)

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.