Suara Politik Generasi Millennial

Suara Politik Generasi Millennialby Tabloid Pendidikan Onlineon.Suara Politik Generasi MillennialOpini, TabloidPendidikan.Com – Bingkai wajah politik hari ini dimata anak muda menurut penelitian Litbang Kompas tidak begitu diminati oleh generasi millennial. Dari 498 responden di 14 kota besar hanya sebelah persen yang berminat masuk ke ranah perpolitikan. Perpolitikan memang memiliki rekam sejarah yang dipenuhi dengan korupsi, pragmatisme, kebohongan dan saling sikut berebut kekuasaan. Wajar jika […]

lbqd53p4

Opini, TabloidPendidikan.Com – Bingkai wajah politik hari ini dimata anak muda menurut penelitian Litbang Kompas tidak begitu diminati oleh generasi millennial. Dari 498 responden di 14 kota besar hanya sebelah persen yang berminat masuk ke ranah perpolitikan. Perpolitikan memang memiliki rekam sejarah yang dipenuhi dengan korupsi, pragmatisme, kebohongan dan saling sikut berebut kekuasaan. Wajar jika pada akhirnya millennial bersikap apatis terhadap perpolitikan.

Anis Saadah  ( Publich Relation Committe Of KOPINDO (Koperasi Pemuda Indonesia dan Staff Kopkun Institute)

Anis Saadah
( Publich Relation Committe Of KOPINDO (Koperasi Pemuda Indonesia dan Staff Kopkun Institute)

Porsinya yang cukup signifikan dalam piramida populasi penduduk  menjadikan generasi ini menjadi sorotan banyak pihak, terutama menjelang pemeilihan legislative dan eksekutif tahun ini.  Riset mulai digelar oleh lembaga riset, para juru kampanye mengeluarkan strategi andalanya untuk merebut hati millennial.

 Paradoks dan Ironi Millennial

Banyak orang yang salah kaprah mendefinisikan millennial. Menurut hemat penulis, term “millennial” masih bias kota dan bias barat dimana term tersebut dilahirkan. Satu paket pendefinisian dan karakteristik yang didapat dari literature barat seringkali ditelan mentah mentah tanpa menyesuaikan konteks social historis di Indonesia.

Salah satu karakter millennial yang paling melekat yakni “techno savvy”  tetapi seberapa banyak anak muda di desa mengoptimalkan internet di saat jaringan internet tidak masuk di desanya. Seberapa banyak anak muda di desa menggunakan belanja online disaat dia sendiri masih bekerja serabutan.

Hal ini terbukti dari hasil riset Lingkar Kajian Banyumas mengenai kegiatan yang paling disukai generasi millennial. Dari 400 responden 3 teratas  kegiatan yang paling digemari yakni Olahraga, music dan nonton film. Tiga kegiatan utama ini juga menjadi kegemeran dari generasi sebelumnya, generasi pada saat soekarno masih muda, Syahrier Muda.

 Ditambah ketika ditanya pertimbangan pemimpin seperti apa millennial akan menjawab varibel Agama salah satu yang utama.  Sehingga menjadi pertanyaan besar, lantas apa yang menjadi beda antara generasi sebelum millennial(konservatif)  dengan millennial hari ini?

Jika kita mengupas karakter  millennial di perkotaan terdapat banyak paradoks. Millennial dengan lantang menginginkan perubahan tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara melakukan perubahan. Mereka mengaku dirinya sebagai orang kreatif, tetapi tidak kreatif dalam laku sehari hari. Mereka berkata ramah dan peduli terhadap orang lain, tetapi mereka menutup diri dan membiarkan tukang becak yang tidak dapat penghasilan.

Adanya platform social media membuat millennial mampu memfilter aktivitas saban hari mana yang layak dan tak layak di tampilkan ke public, Pencitraan. Pencitraan yang dilakukan oleh generasi millennial tanpa strategi hanya berujung pada narsisme semata. Pencitraan yang mengatasnamakan kemanusiaan demi mendapatkan pundi pundi likers dan comment tetapi dia tidak bergerak di akar rumput untuk melakukan pemberdayaan.

Millennial adalah stakeholder utama pada saat Indonesia menuju pada terminal penting 1 abad kemerdekaan tahun 2045. Bagaimana dengan kondisi Indonesia di tangan orang orang yang membangun reputasi tanpa akar rumput?

Mengkotakkan = Mengkerdilkan

Merasa tidak mendapatkan ruang untuk bebas berekspresi jika satu ruang dengan orang tua yang lebih konservatif, mereka memilih menciptakan ruang yang dengan batas batas dari usia. Adanya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang hanya boleh diisi oleh anak muda berusia 17-45 tahun itu hanya akan membatasi ruang gerak nya.

Ketika anak muda bergabung di dalamnya, dia tidak akan bertemu dengan semesta kenyataan dalam realitas sehari hari di masyarakat. Pencitraan tanpa melakukan perubahaan secara sistemik di akar rumput itu menjadi ke keroposan tersendiri. Jika dianalogikan ketika organisasi ini tumbuh tinggi dan menghadapi hantaman angin, dia tidak memiliki cekraman akar yang akan menahanya dan yang terjadi adalah tumbang.

Seperti mantra dari Tan Malaka “Terbentur, Terbentur, Terbentuk”, apa yang dilakukan di kotak itu tidak membenturkan anak muda ke dalam realitas masyarakat. Kemiskinanan, pengangguran, pendidikan yang seharusnya mereka bisa menjamahnya dengan melakukan pendampingan bukan sekadar pencitraan foto untuk mendapatkan simpati para millennial lainya.

Strategi Diaspora

Diaspora berarti menyebar. Sebarlah anak anak muda itu masuk kedalam beragam sektor sektor jangkar. Anak muda masuk di pertanian, anak muda menyebar ke kelautan, meyebar ke UMKM, menyebar ke gerakan perburuhan. Karena mereka adalah generasi millennial maka mereka bisa melakukan perubahan di banyak sektor jangar itu dengan mengoptimalkan teknologi.

Jika semua anak muda berdiaspora ke penjuru sektor melakukan perubahan, saya ingin  mengatakan “Wahai ibu pertiwi, engaku tidak perlu risau akan masa depanmu ditangan anak anak muda luar biasa”.

oleh : Anis Saadah
( Publich Relation Committe Of KOPINDO (Koperasi Pemuda Indonesia dan Staff Kopkun Institute)

Mandiri

banner (800 x 164)

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.