31 Dokter Gugur karena Covid-19, IDI: Dokter Harus Waspada Masuki New Normal

31 Dokter Gugur karena Covid-19, IDI: Dokter Harus Waspada Masuki New Normalby Tabloid Pendidikan Onlineon.31 Dokter Gugur karena Covid-19, IDI: Dokter Harus Waspada Masuki New NormalJakarta, TabloidPendidikan.Com – Selama masa pandemi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat jumlah dokter yang gugur akibat Covid-19 sebanyak 31 orang. Oleh karena itu, IDI meminta seluruh tenaga medis untuk tetap waspada terutama di era new normal, di mana orang akan kembali beraktivitas normal termasuk bebas berobat ke fasilitas kesehatan (faskes). Penularan silang di faskes besar kemungkinan terjadi. Dalam […]

lbqd53p4

Jakarta, TabloidPendidikan.Com – Selama masa pandemi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat jumlah dokter yang gugur akibat Covid-19 sebanyak 31 orang. Oleh karena itu, IDI meminta seluruh tenaga medis untuk tetap waspada terutama di era new normal, di mana orang akan kembali beraktivitas normal termasuk bebas berobat ke fasilitas kesehatan (faskes). Penularan silang di faskes besar kemungkinan terjadi.

Dalam sepekan ini, kabar duka kembali datang dari dunia tenaga medis. Pada Jumat (5/6), dr Esis Prasasti Inda Chaula, dokter spesialis radiologi yang bertugas di IDI Cabang Tegal wafat akibat Covid-19. Ibu tiga orang putri ini meninggal pada Kamis (4/6/) setelah sempat dirawat di ruang isolasi RSUD Kardinah Tegal.

Ucapan duka cita dokter meninggal

Ucapan duka cita dokter meninggal

Lima hari sebelumnya, dr Ignatius Stanislaus Tjahjadi, seorang dokter senior di RS Adi Husada, Surabaya, juga wafat dalam status perawatan sebagai pasien dalam pengawasan.

Menurut Humas PB IDI, dr Halik Malik, kebanyakan dokter meninggal bekerja di rumah sakit (RS) bukan rujukan atau khusus Covid-19. Artinya kemungkinan mereka terpapar dari pasien umum yang sudah terinfeksi tetapi tanpa gejala, atau pasien terinfeksi yang tidak ditangani di RS khusus Covid-19.

“Banyak yang meninggal di RSUD atau RS milik swasta. Ada pula di tempat praktik baik dokter umum maupun dokter ahli. Bisa jadi waktu pasien datang berobat sudah terinfeksi, tetapi tidak ada gejala spesifik,” kata Malik kepada SP, Jumat (5/6/2020).

Hal ini terjadi karena perlindungan diri tenaga medis di fasilitas kesehatan umum tidak sebaik di fasilitas kesehatan rujukan atau khusus Covid-19. Sistem layanannya tidak seketat di RS khusus Covid-19. Potensi penularan justru lebih tinggi di faskes nonrujukan.

Namun, menurut Malik, dari sisi laju kasus meninggal pada tenaga medis sebenarnya tidak ada lonjakan. Meski jumlahnya mungkin terus bertambah, tetapi tidak sebanyak pada awal-awal pandemi. [BS]

Mandiri

banner (800 x 164)

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.