Pesan Terakhir Gus Sholah

Pesan Terakhir Gus Sholahby Tabloid Pendidikan Onlineon.Pesan Terakhir Gus SholahJombang, TabloidPendidikan.Com – Prosesi pemakaman almarhum KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah, di pemakaman keluarga di sisi Masjid Ndalem Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, sekitar delapan kilometer dari arah selatan kota Kabupaten Jombang, Provinsi Jatim, berlangsung haru dan khidmat, Senin (3/2/2020) sore. Almarhum Pemangku sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng itu dimakamkan di […]

lbqd53p4

Jombang, TabloidPendidikan.Com – Prosesi pemakaman almarhum KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah, di pemakaman keluarga di sisi Masjid Ndalem Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, sekitar delapan kilometer dari arah selatan kota Kabupaten Jombang, Provinsi Jatim, berlangsung haru dan khidmat, Senin (3/2/2020) sore.

Almarhum Pemangku sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng itu dimakamkan di sisi barat pusara kakaknya yang juga Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, bersebelahan dengan pusara pendiri organisasi masyarakat keagamaan Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) Hadrattussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Salahuddin Wahid. ( Foto: Antara )

Alm. KH. Salahuddin Wahid. ( Foto: Antara )

Di antara ribuan pelayat yang menyemut dengan lantunan salawat dan tahlil, nampak hadir pada prosesi itu, istri mendiang Gus Sholah, Nyai Hajjah Sholekah, didampingi Gubernur Jatim Hj. Khofifah Indar Parawansa, Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, Pamngdsam V Brawijaya Mayjen TNI Whisnoe PB serta sejumlah tokoh PP Muislimat dan PW Muslimat Jatim lainnya, di antaranya Nyai Hj. Muthomimah, istri almarhum KH Hasyim Muzadi yang juga sahabat dekat Gus Sholah, dan sejumlah tokoh ulama lainnya. Bahkan terlihat pula pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang pernah dekat dengan almarhum dan diberi julukan ‘Gus’ Hotman, setahun silam ketika diundang khusus almarhum untuk memberikan ceramah tentang hukum nasional dan internasional.

Gus Sholah yang lahir 11 September 1942 di Jombang, putera ketiga dari enam bersaudara putra-putri keluarga KH Wahid Hasyim-Nyai Hajjah Sholihah (Putri KH Bisri Syamsuri) itu kendati berpendidikan di luar pesantren di Jakarta utamanya di bidang arsitektur, bergelut di partai politik sehingga dipilih Jenderal TNI (Purn) Wiranto mendampinginya tampil maju sebagai Cawapres pada Pemilu 2004. Namun di sore hingga malam hari ia aktif memperdalam ilmu agama melalui mengaji. Karena luasnya wawasannya, akhirnya dipilih almarhum KH Yusuf Hasyim alias Pak Ud (yang saat itu dalam kondisi sakit karena usia) untuk menggantikan posisinya sebagai Pemangku sekaligus Pengasuh Ponpes Tebuireng.

Almarhum Gus Sholah selama 54 tahun sibuk berkarier di Ibu Kota Jakarta dan baru usia 64 tahun kembali ke Tebuireng memenuhi ‘panggilan’ Pak Ud. Kehadiran tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia itu kemudian dijuluki pembaru Ponpes Tebuireng karena mendorong secara masif pembangunan fasilitas ponpes dan revitalisasi di segala bidang. Sejak tahun 2007, sejumlah wisma baru dengan penataan mutakhir dibangun menggantikan pemondokan yang lama. Kurikulum pendidikan disesuaikan dengan program pemerintah. Sejumlah lembaga pendidikan lama yang semula kembang-kempis, mulai Madrasah Muallimin hingga SMA Trensains, diperbaruhi hingga mengalami kemajuan pesat.

Iapun berhasil mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) yang sebelumnya bernama Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (Ikaha) Jombang yang bisa disebut hidup enggan mati tak mau. Sebelas tahun menjadi Pengasuh Ponpes Tebuireng, ia baru tahun 2012 akan menyerahkan kepada penggantinya yang lebih muda dan memiliki karakter dan berintegritas sebagai Pengasuh dan Pemangku Ponpes Tebuireng.

Sebagaimana diberitakan, almarhum Gus Sholah wafat setelah berjuang melawan penyakit jantung di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita, Jakarta, Minggu (2/2) malam sekitar pukul 20.55 WIB. Jenazah Gus Sholah diterbangkan ke Surabaya dan kemudian dimakamkan berdampingan dengan makam kakeknya, Hadrattussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim (ayah) dan Gus Dur (kakak) di kompleks pemakaman keluarga dekat Masjid Utama Ponpes Tebuireng, Jombang, Senin sore.

Pesan Gus Sholah

Putra almarhum H Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau yang akrab disapa Gus Ipang menyampaikan pesan-pesan terakhir ayahnya sebelum wafat, Sabtu malam. Pesan pertama untuk NU dan juga untuk keislaman bangsa Indonesia agar senantiasa menjaga ukhuwah islamiyah, wahtoniah dan basyariyah, sebagaimana digambarkan dalam (pembuatan) film Jejak Langkah 2 Ulama yang merupakan kerja sama Ponpes Tebuireng dengan PP Muhammadiyah yang segera rampung. Film tersebut sempat di-review Gus Sholah. Terkait masalah kebangsaan itulah, Gus Sholah menurut putranya sangat imbang manakala berebicara tentang keislaman dengan keindonesian.

Karenanya, motto Ponpes Tebuireng adalah: Cinta negeri sebagian dari iman. Visinya adalah: Pesantren terkemuka penghasil Pemimpin berakhlaq karimah. Sedang misinya: Lima nilai Ponpes Tebuireng, yakni: ikhlas, jujur, tanggung jJawab, kerja keras, toleransi.

Kedua, dalam Muktamar NU sebentar lagi, jangan ada money politic dan sudah seharusnya membawa manfaat sebesar-besarnya (ekonomi maupun kesejahteraan sosialnya) bagi nahdliyyin. Semoga terpilih sosok pemimpin yang mumpuni membawa kemaslahatan umat menuju negeri yang baidatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Itu dapat dicapai manakala sosok pemimpin itu memiliki kesederhanaan, kejujuran dan berintegritas. [SP]

Mandiri

banner (800 x 164)

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.