Christine Lagarde, IMF, dan Ekonomi Indonesia

Christine Lagarde, IMF, dan Ekonomi Indonesiaby Tabloid Pendidikan Onlineon.Christine Lagarde, IMF, dan Ekonomi IndonesiaArtikel, TabloidPendidikan.Com – Kedatangan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde ke Indonesia terkait pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali Oktober ini mendapat sambutan beragam. Lagarde, perempuan pertama yang menjadi bos IMF, hanya bertemu pimpinan negeri ini dan petinggi otoritas keuangan moneter di kantor yang megah, tetapi juga menyempatkan diri blusukan bersam Presiden Jokowi […]

lbqd53p4

Artikel, TabloidPendidikan.Com – Kedatangan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde ke Indonesia terkait pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali Oktober ini mendapat sambutan beragam. Lagarde, perempuan pertama yang menjadi bos IMF, hanya bertemu pimpinan negeri ini dan petinggi otoritas keuangan moneter di kantor yang megah, tetapi juga menyempatkan diri blusukan bersam Presiden Jokowi di Tanah Abang.

Lagarde tampak terkesan, sangat impresif, melihat kaum wanita Indonesia yang dia temui begitu tangguh menggelorakan ekonomi. Banyak perempuan, seperti dirinya, yang begitu antusias membangun ekonomi keluarga yang berkolerasi langsung dengan ekonomi nasional.

Prersiden Jokowi Saat Merima Kunjungan Direktur IMF Christine Lagarde

Prersiden Jokowi Saat Merima Kunjungan Direktur IMF Christine Lagarde

Presiden Jokowi sengaja mengajak Lagarde datang ke Pasar Tanah Abang yang memiliki 19 ribu kios untuk menunjukkan bekerjanya usaha kecil dan menengah (UKM) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Lagarde mengaku begitu takjub dan terkesan dengan apa yang dia lihat di Tanah Abang. Ada belasan ribu kios di sana, pusat tekstil besar, dan ribuan perempuan terlibat aktif.

Lagarde, lahir 1 Januari 1956, di Prancis, memang bukan pertama kali datang ke Indonesia. Pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun Lagarde berkunjung meski tidak selama saat ini.

Terhadap Indonesia, wanita yang juga menjadi menteri keuangan pertama di Prancis dan negara-negara G8 ini, cukup mengenal baik. Dia begitu kagum dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang pernah menjadi mitra kerjanya saat Sri Mulyani menjabat direktur di Bank Dunia sebelum kembali ke Indonesia.

Lagarde dan IMF seperti satu kesatuan yang sudah tidak bisa dipisah. Keduanya ibarat laut dan pantai yang tak bisa dipisah. Karena Lagarde telah menjelma menjadi “rock star” di IMF.

Pernyataan dan analisisnya terhadap perekonomian sangat ditunggu-tunggu. Pernyataan-pernyataan Lagarde tentang reformasi struktural, kebijakan moneter dan fiskal, hingga ekonomi global selalu ditunggu-tunggu tidak hanya para pemimpin dunia, tetapi juga jurnalis-jurnalis ekonomi di banyak negara. Termasuk, saat setiap kali IMF bicara tentang ekonomi kawasan dan Indonesia.

Ekonomi Indonesia versi IMF

IMF menilai perekonomian Indonesia terus menunjukkan kinerja yang baik dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, sekaligus kondisi makroekonomi yang terjaga sehingga risiko sistemik dapat terkendali. Risiko sistemik maksudnya jika ada satu atau dua guncangan ekonomi di satu sektor berdampak keras terhadap seluruh sektor secara umum. Ujungnya, mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional.

IMF menyatakan saat ini Indonesia berada pada posisi yang baik dalam mengatasi berbagai tantangan sosial ekonomi. IMF memperkirakan dengan skenario reformasi fiskal dan reformasi lainnya, pertumbuhan potensial Indonesia dapat mencapai 6,5 persen di jangka menengah pada 2022.

IMF memuji perekonomian Indonesia dan menyambut baik fokus bauran kebijakan jangka pendek otoritas yang ditujukan untuk mendukung pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas. IMF memandang positif upaya otoritas yang memfokuskan pengeluaran publik ke sektor-sektor prioritas dan menyambut baik kemajuan investasi infrastruktur di Indonesia.

Dengan demikian, bisa dilakukan mobilisasi penghasilan negara untuk mendukung kebutuhan pembiayaan pembangunan lainnya. Ke depan, IMF memandang /outlook perekonomian Indonesia positif tetapi menekankan perlunya tetap waspada terhadap berbagai risiko.

Legarde terkesan dengan kekuatan industri teksil dan para pekerja di pasar ini yang notabenenya wanita. Hal ini memperlihatkan adanya iklim dinamis dari ekonomi Indonesia. Melihat kondisi perekonomian saat ini, Legarde pun menyebut bahwa ekonomi Indonesia saat ini berjalan dengan baik.

“Hal ini didorong oleh konsumsi, investasi, dan ekspor. Dan tiga mesin ekonomi berjalan sangat baik,” ujar Legarde, Senin (26/2).

Dia pun cukup kagum dengan reformasi berbagai program yang dilakukan pemerintahan saat ini. Ini membuat pergerakan ekonomi dalam negeri Indonesia kembali membaik. Legarde berharap perbaikan di sektor ekonomi ini juga merambah infrastruktur sektor pendidikan dan sosial.

Kemajuan perekonomian Indonesia diyakini bisa semakin naik karena ekonomi global saat ini berjalan jauh lebih baik. IMF percaya pada tahun depan pun perkembangan ekonomi masih bagus. Dengan iklim ekonomi sekarang, Legarde melihat bahwa pemerintah Indonesia seharusnya bisa mencari keuntungan untuk percepatan pembangunan.

Revolusi digital

Lagarde pun mengingatkan pentingnya persiapan dalam menghadapi revolusi digital. Menurut Lagarde, revolusi digital secara pelan-pelan mulai mengubah struktur ekonomi kawasan dan global.

“Kita harus mulai mengendalikan revolusi digital dalam cara yang terbaik dengan meningkatkan kualitas infrastruktur digital dan membuat sistem pendidikan yang sesuai untuk masa depan,” kata Lagarde, Selasa (27/2).

Lagarde menambahkan mengelola transisi dalam kondisi perubahan saat ini sangat penting karena terkait dengan penciptaan kesempatan kerja. Padahal model pertumbuhan ekonomi di masa mendatang akan bergantung pada berbagai inovasi dalam sektor teknologi seperti kecerdasan buatan, pemanfaatan tenaga robot, penggunaan bioteknologi maupun teknologi finansial.

Contoh baik dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk penciptaan tenaga kerja adalah perusahaan startup GoJek yang tidak hanya menyediakan layanan transportasi namun juga jasa pembayaran dan layanan lainnya. Lagarde  menekankan pentingnya untuk mengelola ketidakpastian dengan meningkatkan kualitas kerangka kebijakan fiskal maupun moneter sebagai antisipasi ketika guncangan sewaktu-waktu terjadi.

Indonesia maupun negara-negara di kawasan ASEAN juga penting untuk membuat ekonomi lebih inklusif untuk mengatasi kesenjangan dengan membuat model pertumbuhan ekonomi baru. Model pertumbuhan ekonomi baru ini harus bertujuan untuk mendorong permintaan domestik, meningkatkan perdagangan antarkawasan dan memberikan peluang terjadinya diversifikasi ekonomi.

Ekonomi Indonesia pada 2017 tumbuh 5,07 persen atau di bawah target pemerintah yang sebesar 5,2 persen. Sementara inflasi 3,61 persen yang juga di bawah prediksi plus minus 4 persen. Ekspor turun namun impor naik. Daya beli masyarakat terbilang rendah meski pembangunan infrastruktur terus digenjot.

Respons Bank Indonesia (BI)

Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, menyatakan pandangan IMF tersebut sejalan dengan hasil penilaian BI yang meyakini resiliensi perekonomian Indonesia semakin membaik. Inflasi selama 2017 berada pada level yang rendah sebesar 3,61 persen (yoy). Sehingga dalam tiga tahun terakhir secara konsisten inflasi berhasil dikendalikan dalam kisaran sasaran.

Pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai 5,07 persen ditopang oleh perbaikan investasi infrastruktur oleh pemerintah dan peran investasi swasta. Selain itu, membaiknya resiliensi (daya tahan) ditandai oleh neraca transaksi berjalan yang sehat dan aliran masuk modal asing yang tinggi, serta nilai tukar Rupiah yang stabil.

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir 2017 mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, yakni sebesar 130,2 miliar dolar AS. Sejalan dengan hal itu, stabilitas sistem keuangan selama 2017 juga dinilai tetap terjaga.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi di 2018 diperkirakan meningkat pada kisaran 5,1-5,5 persen dengan inflasi diproyeksikan berada pada kisaran 3,5 persen plus minus 1 persen. Defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap terkendali pada kisaran 2-2,5 persen dari PDB, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik.

“Bank Indonesia memandang pencapaian positif tersebut tidak terlepas dari hasil sinergi kebijakan yang telah berjalan baik selama ini,” kata Agus.

Di sektor fiskal, lanjut Agus, pemerintah telah menjalankan reformasi perpajakan dan meningkatkan kualitas pengeluaran anggaran terutama untuk proyek infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Kemudian di sektor riil, Pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki iklim investasi dan merevisi ketentuan terkait investasi infrastruktur guna mendorong percepatan pembangunan proyek-proyek infrastruktur.

BI senantiasa mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Agus menekankan, kebijakan makroekonomi yang ditempuh secara konsisten dan terukur oleh Pemerintah dan BI menjadi faktor penopang utama membaiknya kinerja perekonomian nasional.

BI memandang terdapat peluang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih kuat dan berkelanjutan melalui penguatan implementasi reformasi struktural. [Rpk]

Ditulis Oleh: Debbie Sutrisno, Elba Damhuri

Mandiri

banner (800 x 164)

Tradisi_pemuda (800 x 270)

Author: 

Tabloid Pendidikan Plus, saat ini hadir sebagai Tabloid Pendidikan Online, dengan Slogan : " Portal Berita Pendidikan Online Yang Mendidik."

Related Posts

Comments are closed.